Bojoneliterasi dan Atas(angan)

390
0

Oleh W. Rizkiawan

Sambil melolos sebatang rokok, saya melanjutkan ritual membaca tulisan Pamuk itu di beranda. Hanya beberapa halaman yang terbaca. Selebihnya, saya menikmati nuansa huzun; menebar asap rokok dan sesekali memasang lamunan

KONON, Bojonegoro berasal dari kata Bojanegara. Boja dalam bahasa Kawi berarti makanan/pesta—berafiliasi dengan bahagia. Sehingga, Bojonegoro bisa dimaknai sebagai Negara (wilayah) yang diberkaihi kebahagiaan. Bagi saya, Boja dan Bojo sama saja. Saya tak pernah mempermasalahkannya. Toh, dengan memiliki Bojo, seorang jomblo bisa ujug-ujug menjadi bahagia kan?

Bojonegoro memang kota menyenangkan. Kecuali pantai, hampir semua wisata alam terdapat di tempat ini. Bahkan, khazanah religi berupa wisata  literasi juga mulai bisa ditemui. Jika ingin berziarah, tentu kita bisa berkunjung ke beberapa tempat. Yang asyik dikunjungi, tentu rumah kami– rumah literasi yang kini mulai sepi.

Saat ini, rumah berada di ujung gang itu barangkali bisa menjadi tempat pertama yang lolos fit and propertest sebagai rumah layak diziarahi jika anggota Dewan setempat mengadakan uji kelayakan. Terbukti, beberapa bulan terakhir, ruang aksara itu tampak lengang. Seperti zombi (zomblo bingung), buku-buku itu hanya berteman kesendirian.

Beberapa pekan lalu, saya sempat berziarah ke tempat itu. Ruang penuh kenangan– yang saya jadikan rumah kedua saat berkunjung ke Kota– itu tampak lengang . Saya kesana tidak sendiri. Namun ditemani Istanbul: Memories and The City-nya Orhan Pamuk. Saya sengaja membawa buku itu untuk benar-benar mencari sensasi apa yang dikatakan Pamuk sebagai: huzun (kemuraman) dalam kisahnya tersebut.

Tak sesulit mencari Pokemon. Begitu mudah merasakan hadirnya huzun di tempat itu. Begitu sampai di beranda, dengan ramah (huzun) menghampiri saya. Katanya, sedang tak ada orang di rumah. Hanya ada kemuraman dan kenangan yang tercecer di ruang tengah.

Sambil melolos sebatang rokok, saya melanjutkan ritual membaca tulisan Pamuk itu di beranda. Hanya beberapa halaman yang terbaca. Selebihnya, saya menikmati nuansa huzun; menebar asap rokok dan sesekali memasang lamunan.

Sepekan setelah proses ziarah saya lakukan, kawan saya –yang juga Kerani sastra di Komunitas Atas Angin– ngajak ngopi. Sebenarnya, selain kawan baik itu, sang legenda –Tohirjuga datang di tempat sama. Sayang, belum sempat ketemu, dia sudah balik kandang.

Beberapa jam dinanti–bahkan hingga akhir perkopian–juru kunci rumah Cendra yang namanya kerap menjadi mitos di setiap diskusi buku itu tak kunjung datang juga —barangkali dia sedang ketiduran.

Dari perkopian saya bersama kawan baik yang sering membawakan saya buku-buku berbahasa inggris itu, kami sempat rasan-rasan tentang menurunnya geliat baca-tulis di Jalan Cendrawasih. Indikatornya? Ya tadi, suasana huzun di rumah Cendra.

Harus diakui, pasca runtuhnya dinasti Tohiriah, memang geliat literasi sedikit menurun. Kesibukan masing-masing dan sepinya proses kaderisasi menjadi masalah yang kerap menghantui. Itu yang tidak terjadi saat dinasti Tohiriah masih tegak berdiri. Saat Tohir masih muda—selain terkenal militan dan tidak takut cuaca—Tohir juga lihai merekrut para calon syuhada. Eh,….

Disadari atau tidak, memang proses kaderisasi menjadi permasalahan besar yang kerap ditemui komunitas literasi di berbagai macam daerah. Salah seorang teman juga pernah mengeluh hal sama. Katanya, semacam ada jarak antara junior dan senior. Tentu ini bukan masalah usia. Namun, masalah konten sebuah karya.

Isi tulisan para senior selalu berkesan serius. Mewah referensi. Sulit dipahami dan tidak jarang membuat orang yang sebelumnya berniat ingin menulis, mengurungkan niatnya karena minder. Sebab itulah, teman saya tersebut akhirnya mengubah tampilan web milik komunitasnya, dari tulisan yang serius diubah menjadi tulisan-tulisan tentang hal keseharian. Tentang isu politik lokal yang diparodikan; tentang catatan perjalanan; bahkan tentang pengalaman nonton sepakbola yang kembali dikisahkan.

Isi konten web yang sebelumnya berkesan serius lambat laun mulai mencair. Alhasil, dalam beberapa bulan, banyak mahasiswa tingkat awal di kawasan Kota itu mulai ikut berkontribusi menulis di web. Kenapa banyak mahasiswa berkeinginan menulis? Menurut pengakuan teman saya, itu karena mereka terpancing secara emosi. Selain itu juga karena ingin mengaktualisasikan diri.

Sebab, selain temanya hal remeh temeh bersumber dari realitas lokal, teman saya juga rajin ngeshare tulisan di web ke media sosial. Tentu banyak yang terpancing membaca. Sekaligus tertantang ikut menulis. Untuk memelihara kader sekaligus peningkatan mutu, setiap sabtu teman-teman mengadakan Tadarus buku. Begitulah cara teman saya mengatasi krisis kaderisasi.

Teman saya memang mengaku banyak terinspirasi dari apa yang dilakukan Puthut EA. Selain mampu meningkatkan hasrat menulis pada banyak orang, Puthut dengan mojok.co-nya juga mampu membangun iklim literasi generasi modern hanya dengan membuat web berisi tema sederhana dengan kemasan asyik.

Padahal, andai Puthut mau, tentu dia bisa membuat web dengan tulisan maha njlimet. Namun dia lebih memilih tema-tema sederhana dengan konsep parodi satir yang gemanya bertahan lama. Bahkan, beberapa web yang dia kelola juga memiliki tema seperti itu. Puthut tentu tahu, itu lebih terasa dekat sekaligus memiliki nuansa “mengundang” orang lain untuk ikut menulis.

Alhasil, selain menghimpun komunitas dan membangun iklim ber-literasi para generasi muda, Puthut bahkan mampu menghidupkan kembali semangat para penulis (tua) yang sebelumnya mati suri akibat sawanen  media online. Betapa cara Puthut yang sederhana itu berdampak sangat besar.

Mendengar guneman teman saya tersebut, saya sempat melamun lama. Saya berangan-angan, andai saja web atasangin.com diisi dengan konten tulisan semacam parodi isu politik lokal; catatan perkopian; review nonton bola; atau bahkan fenomena-fenomena muatan lokal yang dikemas dengan ciamik– barangkali banyak penulis baru yang merasa terundang untuk ikutan menulis.

Ini bukan tanpa alasan. Saat ini, di Bojonegoro sudah menjamur tempat perkuliahan. Selain memiliki organisasi pergerakan, hampir setiap kampus juga terdapat kegiatan ekstra berupa lembaga pers mahasiswa (LPM)— setidaknya itu yang saya baca di setiap blangko penawaran kuliah.

Dengan banyaknya kampus–meski hanya kampus swasta—bisa jadi Bojonegoro kelak bisa seperti Kota besar lainnya. Sebab, setahu saya, dunia pergerakan dan kampus merupakan dunia dimana orang bisa secara ujug-ujug rajin dan betah membaca. Itu pasar menarik untuk menghidupkan iklim ber-literasi. Dan tentunya memudahkan proses kaderisasi.

Namun begitu, meski memasang angan-angan tak butuh banyak biaya dan tak melalui proses administratif yang membosankan, saya tetap  memegang fatwa Sir Ilham Khatulistiwa bahwa mencium angan-angan tentu lebih mudah dari pada mencium (pas) angan. Ah, sudahlah.

W. Rizkiawan, bercita-cita jadi pemain Liverpool FC.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here