Home Uncategorized Biografi Novel Biografi

Biografi Novel Biografi

663
0

BIOGRAFI SEBUAH

NOVEL BIOGRAFI

Catatan Kegiatan Oleh : Mohamad Tohir

Arisan Buku Edisi Januari 2014,  07-1830.00

Disajikan oleh Nyaidi dengan buku : novel Surat Dahlan Karya Khrisna Pabichara (Noura Books, 2013)

 

buku motivasi

DAN KEMUDIAN, setelah tertunda sebulan, akhirnya Nyaidi datang mala
m itu, membawakan sebuah novel yang akan dipresentasikannya kepada peserta Arisan Buku.

Hujan baru saja reda. Jumlah kami lumayan banyak. Saya sendiri, Ahmad Wahid, Wulang, Ahmad Syahid, Ulil Fikri, R. Minan, Imam SY, Dhita FH, Ali Ahmadi, Fatoni, dan masih banyak lagi.

Saya membuka acara dengan sedikit memperkenalkan Nyadi, bahwa dia adalah seorang mahasiswa bahasa dan sastra IKIP PGRI Bojonegoro dan dia datang malam itu untuk berbagi atas apa yang dia telah serap saripatinya, hikmahnya, dari sebuah novel yang bagi dia luar biasa. Novel itu berjudul Surat Dahlan, sekuel dari Sepatu Dahlan (adalah sebuah trilogy; Sepatu Dahlan, Surat Dahlan, dan Senyum Dahlan). Nyaidi juga telah mempersiapkan makalah untuk mempermudah pembahasan.

“Bukan makalah. Itu hanya sinopsis,” sahut Nyaidi malu-malu. Sinopsis atau ringkasan novel itu bisa dibaca tersendiri di http://www.atasangin.com/dahlan-tak-pernah-mati/. Nyaidi bercerita secara runtut berdasar sinopsisnya itu.

Nyaidi mengatakan bahwa novel itu menarik untuk dibaca karena pembaca dapat menangkap semangat belajar Dahlan yang tinggi. Dahlan adalah seorang pembelajar yang yakin bahwa belajar itu wajib seumur hidup. Min al-mahdi ila al-lahdi katanya.

Belajar, pada hekekatnya, menurut Nyaidi, “Saya mengutip kata guru saya ini,” adalah ikhtiar untuk mengoptimalkan unsur unsur kemanusiaan manusia, yang terdiri dari udara, air, tanah, dan api.

“Seperti jurus Avatar,” celetuk Ahmad Syahid. Tawa meledak.

Avatar The Last Airbender adalah sebuah film tentang ilmu kebijaksanaan kuno di Asia, tentang penguasaan terhadap empat unsur materi untuk menjaga keseimbangan hidup. Keempat unsur itu, dalam bahasa film itu, disebut dengan cakra, unsur-unsur alam semesta yang ada dalam setiap diri manusia.

Artinya, menurut Nyaidi, manusia itu harus selalu berusaha untuk berkaca pada empat unsur itu; air, angin, tanah, dan api. Air itu mengalir, terus mengalir dan tidak pernah menyerah dan selalu memanfaatkan celah yang ada. Manusia tak boleh mudah menyerah, harus terus berusaha. Kemudian manusia itu harus seperti angin, yang selalu jujur. Tidak mungkin angin itu menghantarkan aroma yang keliru ke hidung kita. Aroma sate adalah berasal dari sate, tidak mungkin dari benda lainnya. Tanah itu simbol nriman dan sabar, dicangkul nggak pernah membalas, ditanami jagung pasti keluar jagung, nggak mungkin keluar uang. Dan yang terakhir adalah api. Api itu selalu menyala ke atas, tidak mungkin ke bawah. Api itu simbol nafsu. Nafsu itu, kalau tidak dituruti manusia tidak dapat hidup, kalau dituruti, juga sama. Nyaidi menangkap proses itulah yang dijalani Dahlan sepanjang pengembaraannya.

“Belum ada yang bicara tentang ini selain saya,” kata Nyaidi. Tawa meledak.

Surat Dahlan adalah sebuah novel biografi yang diangkat berdasarkan kisah nyata tokoh anak negeri yang terkanal ‘baik hati’, Dahlan Iskan. Dituliskan dalam novel, Dahlan sering berkirim dan menerima surat dengan dan dari beberapa orang dekatnya.

Mengenai itu, Wulang menanyakan komentar dari tokoh yang dijadikan figur, Dahlan Iskan itu, bagaimana komentarnya; apakah Dahlan Iskan bersedia, misalnya, surat-suratnya diekspos ke khalayak luas? Nyaidi mengatakan bahwa Dahlan Iskan setuju dan menyambut dengan hangat usaha pengarang novel ini. Dahlan Iskan tidak keberatan kisah hidupnya disampaikan ke pembaca, supaya bisa memberikan inspirasi. Mengapa harus ditutup-tutupi kalau sudah nyata-nyata berguna?

Ahmad Syahid mempertanyakan motif novel itu yang bisa jadi adalah pesanan. Berbeda dengan sebuah biografi Gus Dur, misalnya, yang mana si penulis (Greg Barton mungkin) melakukan penelitian, wawancara, kajian, lalu kemudian menuliskannya dalam rupa buku. Surat Dahlan, bisa jadi, adalah novel pesanan. Sang figur, Dahlan Iskan, meminta penulis menuliskan ‘kisah hidupnya’ dalam bentuk novel.

Ahmad Syahid juga mempertanyakan tentang ‘perjuangan dan pemberontakan’. Dahlan yang, berdasar makalah Nyaidi, sempat menjadi buronan nomor 1. Menurut Ahmad Syahid itu menarik dan perlu dijelaskan agar lebih mengena. Masalahnya, kenyataan itu kesannya bertentangan dengan Dahlan yang pembelajar (kalau belajar diartikan di ruang formal). Perjuangan dan pemberontakan macam apa yang dilakukan, yang nyata-nyata lebih dipentingkan ketimbang belajar, oleh Dahlan? Nyaidi menjawab, Dahlan sempat menjadi buronan saat itu karena merasakan iklim kebebasan berpendapat yang diintimidasi oleh penguasa Orde Baru dan Dahlan melawan itu.

Khrisna Pabichara, dalam Surat Dahlan, menjelaskan cukup detil sebenarnya tentang pembentukan intelektual Dahlan. Intelektualisme Dahlan terbentuk ketika dia bergabung dengan PII (Pelajar Islam Indonesia). Bersama teman PII, Dahlan banyak berdiskusi tentang tema-tema besar negara. Hingga pada puncaknya, di tahun 70-an, saat terjadi peristiwa Malari (15 Januari 1974), di mana terjadi demonstrasi mahasiswa besar-besaran yang disusul dengan ‘kerusuhan’. Dahlan masuk dalam barisan demonstran itu, yang menolak penandatanganan Presiden Soeharto untuk penanaman modal asing di Indonesia. Malari adalah peristiwa penting yang mengubah arah atau peta perekonomian Indonesia. Hal itu kontras sekali dengan Soekarno yang antipati terhadap segala bentuk imperialisme. Dahlan ikut mengadakan demonstrasi besar-besaran melawan itu bersama kawan-kawan PII. Dahlan menjadi lawan pemerintah dan diburu gara-gara itu.

Ahmad Wahid juga mengapresiasi Surat Dahlan. Hanya saja, jenis dan kualitas novel itu perlu ditinjau ulang. Mengapa? Semua tahu siapa Dahlan Iskan. Dia adalah pejabat negara yang figurnya baik, secara penampilan begitu sederhana, selalu tersenyum pada siapa saja, dan pernah merasakan mati namun karena mukjizat hingga sekarang masih eksis dan energik, penampilan sederhana, bersahaja, bagus lah. Kalau sekadar ingin tahu bagaimana Dahlan Iskan, menurut Ahmad Wahid, tidak membaca novelnyapun tidak apa-apa, lha wong orangnya juga masih hidup dan sering nongol di TV dan koran. Terlepas dari apakah novel ini pesanan atau tidak itu tidak menjadi masalah, nyatanya buku-buku tentang Dahlan Iskan laku manis di pasaran. Yang perlu diperhatikan sebenarnya adalah kualitas novel itu sendiri bagaimana. Sebuah novel, kata kunci untuk membacanya, biasanya adalah pada bagaimana alurnya, penokohannya, semiotikanya, dan lain-lain. Itulah yang menjadi daya tawar tersendiri tentunya yang kemudian menjadikan Surat Dahlan layak untuk dibaca.

Tentang itu, Nyaidi menceritakan ulang urutan-urutan peristiwa dalam Surat Dahlan. Tidak ditulis di sini karena tidak berbeda jauh dengan apa yang disampaikan beberapa waktu lalu.

Tentang bahwa Surat Dahlan adalah novel biografi juga muncul diskusi yang menarik. Kebanyakan orang akan cenderung mengingat-ingat figur di luar novel ketika membacanya. Memang, novel biografi adalah penggambaran figur yang dirupakan sebuah novel yang mau tidak mau linear dengan kenyataan meskipun sifat novel itu fiksi. Hanya saja, tentang realitas fiksi, seberapa jauhpun ia meniru realitas nonfiksi, ia punya dunianya tersendiri. Sebuah cermin, misalnya, yang memantulkan gambar kita, mempunyai hukum atau dunianya sendiri meskipun kita menyebut gambar di cermin itu adalah kita. Hukum atau sistem yang lain itu adalah, misalnya, keterbalikan yang sifatnya mutlak, kiri dan kanan dalam cermin. Itulah realitas dalam fiksi yang dimaksud. Membentuk dunia atau realitas tersendiri dalam fiksi itulah yang menjadi tanggung jawab penulis novel.

Bahasan mengenai novel biografi, disebut juga novel atau sastra motivasi, memang sempat menjadi fenomena suatu waktu lalu. Itu dibuktikan dengan berkecambahnya novel-novel sejenis Laskar pelangi, Sang Pemimpi, Anak Sejuta Bintang, 9 Summers 10 Autumns, Mimpi Sejuta Dolar, Anak Singkong, dan seterusnya. Sempat, sebagai respon atas maraknya novel biografi itu, muncul istilah novel pesanan atau novel pilpres (seperti pernyataan Ahmad Syahid tadi). Di Kompas Minggu (26 Feb ‘12), Sidik Nugroho menulis kritik yang sinis terhadap ‘genre’ itu. Ditulis olehnya bahwa merebaknya sastra motivasi adalah karena “kecenderungan bangsa ini yang sedang keranjingan mendengar motivator berbicara lantang di televisi dan berbagai acara lain.”

Menurut Ulil Fikri, memang Surat Dahlan dibuat ketika orangnya, figur novel, masih hidup. Dan, nampaknya, antara kejadian satu dengan kejadian lain yang tidak nyambung, itu tidak menjadi penekanan dalam penulisan. Karena figurnya masih hidup, penulis sengaja mengemasnya dengan alur yang rapi, yang tujuannya tak lebih untuk pengenalan lebih dekat, itu saja. Jadi, menurut Fikri, pada intinya, Surat Dahlan ditulis tidak lain adalah untuk mendekatkan sosok yang menjadi figur tokoh novel kepada pembaca.

Kata Dhita, novel biografi berbeda dengan biografi murni, yang tidak perlu menggambarkan realitas secara utuh. Sebenarnya, pertanyaannya adalah, dunia apa yang dibangun penulis sehingga ini menjadi novel, bukan sekadar laporan peristiwa yang terjadi pada diri Dahlan. Surat itu bagian dari isi cerita atau isi surat itu yang diceritakan?

“Sebuah judul bukan sesuatu yang sembarangan. Ibaratnya, judul itu adalah jantung cerita,” imbuh Fikri.

Menanggapi itu, Nyaidi mengatakan bahwa betapa banyak surat yang berceceran dalam lembar-lembar novel ini. Dengan demikian rumit untuk menentukan mana dari sekian surat yang paling berpengaruh terhadap keseluruhan novel. “Saya tentunya ndak hafal dan tidak membaca semua surat itu.”

Kemudian, dia membacakan salah satu surat dalam Surat Dahlan.

Perlu pembacaan ulang dan teliti sebenarnya untuk menemukan hubungan surat-surat itu sehingga dijadikan jantung kehidupan dalam novel itu. Yang pasti, posisi surat dalam novel itu penting sekali. Ada pertalian dengan klimaks novel yang dalam novel itu adalah peraihan Dahlan menjadi pucuk pimpinan sebuah media massa nasional.

Memberikan kata pamungkas, Nyaidi mengatakan, mengutip Abu Hamid al-Ghazali (salah satu adegan dalam Surat Dahlan) bahwa: “dalam hidup ini yang paling berat adalah amanah, yang paling besar adalah hawa nafsu, dan yang paling dekat adalah kematian.”

“Yang paling jauh adalah masa lalu,” imbuh Dhita. Tepuk tangan menyusul.

Seperti biasa, serampung obrolan, dilakukan pengundian. Dari ketigabelas nama yang diundi, yang muncul untuk bulan berikutnya adalah Bambang . Sampai jumpa di Arisan Buku edisi Februari.

 

Bojonegoro, 8 Januari 2014

 

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here