Home Catatan Bibit, Sebuah Obituari

Bibit, Sebuah Obituari

309
0
Almarhum Joko Bibit Santoso saat berlatih di Sanggar Teater Ruang Surakarta

Oleh Tulus Adarrma

Puncak malam tahun baru 2016 di Pekalongan. Di jalanan, bising kendaraan bermotor sedang merayakan pergantian tahun. Sementara di dalam gedung, di panggung pertunjukan IAIN Pekalongan, dua kelompok teater sedang berpentas. Pertama monolog Mutilasi Purba oleh Joko Bibit Santoso dari Teater Ruang Solo, disusul lakon Jalan dari  Teater Rajekwesi Bojonegoro. Suasananya khusuk, meski tak banyak yang menonton, tidak sampai separo ruang.

Itulah kali pertama saya bertemu langsung dengan Joko Bibit Santoso. Setelah perjumpan itu, saya masih sering berjumpa, meski hanya dengan pemikiran-pemikirannya. Banyak dari pemikirannya yang ketemu dengan saya. Meski harus melalui teman saya, sebab saya tidak berteman facebook dengannya. Hampir di setiap saat berbincang tentang teater, saya dan teman saya itu seolah terbawa untuk menghadirkan Joko Bibit dan Masnoen.

Kami membuat forum melingkar usai pementasan malam tahun baru itu. Dalam pembahasan kami, selain menyoal tentang pementasan yang baru selesai, kami juga membahas tentang segala penjajahan yang terjadi di negeri ini.

“Gerakan dan vokalmu kurang tegas,”kata Joko Bibit Santoso kepada saya waktu itu. “Padahal saat berbicara seperti ini (diskusi) kamu menguasai materi. Tapi dalam pertunjukan masih kurang menguasai. Intensitas prosesmu masih kurang,” lanjutnya.

Saya mengakui, bahwa intensitas saya berlatih teater memang masih kurang jika terpaksa harus dibandingkan dengan pemain Teater Rajekwesi yang lain, seperti Mustakim dan Oky Dwi Cahyo. Saya lebih banyak belajar dari mereka. Meski kami sama-sama melengkapi dalam pementasan.

Di 2016 ini, Joko Bibit sedang menyiapkan pentas kolosal jaranan massal, yang rencananya akan digelar pada akhir tahun. Pentas itu bakal melibatkan berbagai komunitas, meskipun harus membentuk komunitas-komunitas baru. Artinya, dia harus bergerilya membangun komunitas-komunitas seni di kota tempat tinggalnya, Surakarta. Dia begitu menikmati gerakan gerilya itu, sembari melakukan intensitas proses bagi pengalaman tubuhnya sendiri. Dia selalu bersyukur.

Kabupaten Wonogiri juga menjadi salah satu ruang intens prosesnya. Sebuah perkebunan organik sekaligus sanggar teater mulai dia rintis di sana. Acapkali dia menikmati hasil tanam di perkebunan organik itu bersama-sama.

Eri Aryani, salah satu anggota Teater Ruang, ingat betul cara Bibit menikmati singkong bakar dari kebun itu, belum lama ini. “Dia begitu mensyukuri setiap langkahnya. Setiap yang dilakukan merupakan berkah katanya. Termasuk saat makan singkong, saya menemukan kenikmatan yang luar biasa dirasakan Joko Bibit,” kata Eri.

Gerakan Joko Bibit itulah yang memotivasi kami, untuk melakukan pentas keliling desa-desa di Bojonegoro akhir-akhir ini. Kami seperti menerima vaksin semangat dari Joko Bibit untuk melakukan pentas keliling desa. Seperti di Kasiman, Trucuk, Rengel-Kabupaten Tuban, dan terakhir kami tutup di Kampus IAI Sunan Giri. Tentu saja, pentas keliling yang kami lakukan itu masih kecil jika dibanding dengan apa yang sudah dilakukan Joko Bibit. Namun kami akan terus berproses.

Dua minggu lalu, tepatnya Jumat 14 Oktober 2016, sekitar pukul 13.00 WIB, saya mendapati kabar di beranda facebook bahwa Joko Bibit telah menempati ruangnya sendiri dan meninggalkan Komunitas Teater Ruang. Selamanya. Menurut beberapa kawan di Teater Ruang, Joko Bibit meninggal dunia karena serangan jantung. Dalam kondisi sakit sekalipun, kata kawan-kawan itu, dia masih melakukan gerilya teater. Rencananya dia akan mengembangkan komunitas teater lagi, merencanakan bberapa kegelisahannya.

Semangat gerilya mendampingi kawan-kawan di Komunitas Ruang Solo untuk terus berproses memiliki energi yang begitu kuat. Saya merasakan itu saat mengunjungi rumah duka, sehari setelah kepulangannya. Beberapa kawan seniman di sana seolah masih belum percaya dengan kepulangan Joko Bibit. Di sanggar Teater Ruang, kami dari Bojonegoro disambut Helmy Prasetya, Eri Aryani dan kawan-kawan lain di Teater Ruang. Semangat Joko Bibit masih melekat dalam diri mereka. Masih banyak impian Joko Bibit yang harus diteruskan. Teka-teki pemikirannya masih harus terus dicari.

Tak lama sebelum mendapati kabar Joko Bibit meninggal, dia serasa hadir. Dari sekali pertemuan dengannya di Pekalongan itu, Joko Bibit hadir dalam mimpi tidur saya. Mimpi yang menyimpan banyak pesan. Pesan yang harus terus saya cari.

—————————————————

Tulus Adarrma, alumni Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP PGRI Bojonegoro, bergiat di Sayap Jendela Art Laboratory

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here