Home Berita Besar Tanpa Menjadi Bayi?

Besar Tanpa Menjadi Bayi?

400
0

Saya terus terang masih bingung kalau disodori pertanyaan apa itu konkritnya atas angin. Dalam benak yang muncul adalah lesus, ulur-ulur, semriwing angin, mega yang tenang dan bersih, langit biru, dan seterusnya.

Tapi baiklah, lupakan saja itu. Bukan itu yang menarik untuk kita perhatikan. Biarlah pakar bahasa dan yang punya pengalaman banyak tentang sejarah dan ilmu bumi yang menjawab seperti itu. Bukan itu. Melainkan atas angin yang mengejawantah dalam bentuk majalah.

Ia, Atas Angin, itulah yang beberapa hari lalu (Sabtu, 01/ 09/2012) buat pertama kali dikenalkan ke publik lewat launching yang dilaksanakan di Sanggar Guna, A. Yani, 43 Bojonegoro. Majalah itulah yang setelah berbulan-bulan lamanya berputar-putar dalam kepala kami dan akhirnya mewujud dalam bentuk cetak sehingga lebih nyata dan gurih dinikmati.

Dilihat dari cover depannya, sangar bukan? Dalam kegelapan malam beberapa perempuan berjilbab seperti Alin, Olivia Hapsari, Faiz, Yeni, Aylla, dst nampak serius menulis entah apa. Sebuah pijar lilin menerangi masing-masing mereka dengan temaram dan menghiasi gelap, sebuah viewer yang benar-benar artistik bukan? Seperti para penulis hebat dan top markotop (meminjam logatnya Awe).

Di cover belakang juga tak kalah sangarnya. Beberapa jepretan kamera yang menunjukkan sebuah kebersamaan, kekompakan, menorehkan senyum di dada dan membuat keder semua orang yang melihat. Betapa kebersamaan itu mengikat dan memberi amunisi untuk Atas Angin. Ada juga kita yang sedang belajar menulis ditemani penyair kondang peraih penghargaan kondang, Khatulistiwa Literacy Awards, 2010 lalu. Hebat bukan?

Lihatlah! Launchingnya saja dihadiri para penulis hebat. Nampak hadir di situ Yonathan Rahardjo, penulis novel ‘Lanang’ asal Bojonegoro yang memenangi sayembara novel DKJ 2006 lalu. Ada juga Susanto, guru salah satu SMA di Bojonegoro yang maniak buku dan sering nulis di media. Juga Prawoto R. Sujadi, seorang guru muda yang langkahnya seperti angin, yang beberapa bulan lalu menerbitkan buku pertamanya yang dilaunching saat pesta perkawinannya.

Sungguh prestasi yang membanggakan! Itulah mengapa ketika Anas AG. menyatakan bahwa atas angin adalah bayi yang masih banyak harus berbenah, maka tante Wiwik segera menampik dan berkata bahwa Atas Angin bukanlah bayi lagi. Atas Angin sudah besar tanpa menjadi bayi dahulu, katanya. Sampai saat ini saya masih belum faham bila memakai logika. Tapi boleh juga.

Benarkan seperti itu? Bolehkah kita bangga? Itu pertanyaan yang mengusik saya. Juga semua teman-teman redaksi. Kita semua. Bangga thok, masa tak boleh? Entahlah. Tapi jujur, saya bangga dan berbunga-bunga sekali. Saya seperti penulis betulan. Juga tiba-tiba merasa pintar karena bisa mewadahi para penulis untuk berkarya di majalah kita (meski penulis dalam artian– saya masih ingat betul, seorang kawan pernah berkata –bahwa siapa saja yang menulis, dia adalah penulis).

Tentu saja banyak para undangan yang kebanyakan siswa SMA itu berdecak kagum, mencecep-cecap bibirnya. Atau mereka malah keder begitu membacai teks demi teks dalam majalah kita. Lihatlah tulisan pembukanya yang begitu indah dan puitis itu, kemudian sebuah esai pendek yang penuh perlambang dan padat berisi itu, kemudian sebuah catatan yang berbicara bagaimana sebuah bangsa bisa maju itu, resensi buku yang kebetulan nepak’i film bioskop yang sedang booming akhir-akhir ini, dan seterusnya-dan seterusnya.

Tapi…, ah, tak patutlah kita melangitkan diri. Apalagi sampai membandingkan diri dengan Horison asuhan Taufik Ismail itu, meski semangat kita sebenarnya bisa dibilang sama ( dulu mereka pasti seperti kita, kecil-kecilan asal kelakon.Suatu saat kita pasti seperti mereka, percayalah! ). Lagi pula semakin tinggi kita, kalau tiba-tiba saja jatuh, tentu saja alias pasti semakin sakit.

Sudahlah, berhenti dulu bangganya! Nanti kalau keblabasan bisa seperti Don Quixote yang konyol itu. Baiknya kita mengamini brand of the year-nya Jawa Pos, kerja kerja kerja! saja. Atau Talk Less Do More seperti iklan rokok itu… Tapi sesekali tetap tak ada yang menyalahkan  bila kita bermain. Ach, kok malah ceramah. Tapi yang jelas jangan berhenti menulis! Seperti pesan Yonathan pada Olipia Hapsari kemarin, kutunggu karyamu yang ketiga belas! So, semoga kita masih bisa mendedahkan karya untuk edisi berikutnya dengan lebih baik. Sekian.

Robbii zidnii ilmaa warzuqnii fahmaa. Walaa Taj’alna Minal Ghaafiliin…Salam!

New Village, September 2012

Penulis :  Mohamad Tohir

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here