Home Buku Berburu Buku dan Cerita-cerita Sangat Rahasia

Berburu Buku dan Cerita-cerita Sangat Rahasia

141
0
pixabay.com

oleh Nanang Fahrudin

I

Saya awalnya hendak menulis tentang buku-buku yang saya baca. Tapi rasa-rasanya saya sudah sering menulisnya. Dan setelah saya timbang-timbang sangat nggak menarik jika saya menulisnya lagi di sini. Khawatir membosankan. Kan sia-sia nanti jadinya?

Tapi apa boleh buat. Tema yang disodorkan adalah Hari Buku Sedunia. Mau tidak mau harus menulis yang nyrempet-nyrempet buku. Baiklah. Saya menulis tentang kisah memburu buku saja. Buku yang saya kumpulkan sedikit demi sedikit yang tak juga jadi bukit. Buku-buku yang jika hilang satu (apalagi yang saya sukai), mikirnya bisa semingguan sambil berdzikir dan berdoa semoga bisa balik. Tak jarang juga difatihahi.

Saya sering berpikir bahwa usaha saya berburu buku sudah tidak rasional lagi, terlalu didramatisasi. Tidak didasarkan pada logika kebutuhan, melainkan hanya pada logika keinginan semata. Jauh dari logika waras, dan hanya menuruti syahwat saja. Tapi itulah kenyataan pahitnya. Yakni cenderung tak mau tahu isi kantong. Kalau bisa ngutang untuk beli buku, kenapa tidak? Itu rumus saya, yang tentu saja tidak patut dicontoh.

Akibat rumus saya yang “menyesatkan” itu saya sering membohongi istri saya tentang harga buku (semoga beliau tidak membaca tulisan ini, hehe). Harga buku Rp 100 ribu akan saya bilang Rp 50 ribu. Harga buku Rp200 ribu akan saya bilang dikasih teman. Demikian seterusnya dan seterusnya. Bukan apa-apa sih, cuma nggak tega saja mengatakannya. Maklum, belanja terbanyak saya ya buku. Ibaratnya, saya mau beli celana harga Rp 100 ribu itu sayang banget, dan kalau nggak butuh-butuh banget tidak akan beli. Tapi kalau beli buku semisal harga Rp 150 ribu atau di atasnya, ya enteng-enteng saja.

Sekitar tahun 2015, saya bekerja di perusahaan yang mengerjakan proyek fire and gas di pengeboran minyak lepas pantai. Teman-teman kerja tak banyak yang tahu kesukaanku membaca buku. Dan saat berada di tengah Laut Jawa itu, hiburan paling menyenangkan adalah berselancar mengunjungi lapak-lapak buku online dan membelinya. Hampir tiap bulan ada sekitar Rp 300 ribu uang yang saya belanjakan untuk bertransaksi online. Sungguh menyenangkan tapi bikin kantong bolong.

Buku Naga Merah karya Jack Belden salah satunya. Saya beli via online waktu bekerja di tengah laut (tapi tetap saya alamatkan kirim ke rumah lho). Harga buku tebal berisi reportase wartawan AS tentang sebuah negara “Republik Rakjat Jang Menggetarkan Dunia”. Buku itu saya beli dengan harga Rp 250 ribu. Saat buku sampai, saya tidak bercerita tentang buku itu kepada istri. Langsung saja saya masukkan ke almari. Itu modus yang sering saya lakukan.  Dan buku Naga Merah ini sekadar satu contoh saja.

 

II

Selalu ada semacam dorongan (entah dari mana) untuk berburu buku pada waktu-waktu tertentu. Seperti pagi itu, sinar matahari belum menyengat. Saya tiba-tiba ingin sekali ke Surabaya. Ya betul, kemana lagi kalau bukan ke Kampung Ilmu Jalan Semarang, pusat buku bekas di Surabaya. Naik motor Supra X 125, saya meluncur melewati Lamongan dan Gresik. Jika dilihat jarak Bojonegoro-Surabaya ya sekitar 100 km. Lumayan jauh kan?

Sesampai di Kampung Ilmu saya berencana tak langsung ke lapak. Karena tujuan saya memang cuma memanjakan mata. Apalagi saya cuma bawa uang Rp 300 ribu di kantong. Dan ini juga hal yang mungkin bagi anda nggak rasional banget. Yakni memandangi tumpukan buku di lapak-lapak buku bekas bikin hati jadi adem. Saya suka duduk menikmati kopi sambil mata memandang ke buku di sekeliling.

“Mas, mbok ke sini, dilihat bukunya sapa tahu ada yang cocok,” teriak salah satu pedagang. Maklum para pedagang di Kampung Ilmu sudah seperti saudara. Akrab.

“Ya nanti saya ke situ,” jawab saya.

“Oh ya mas. Di pojok (sambil nunjuk salah satu lapak) itu ada buku Pram. Senang nggak? Coba saja ke sana,” katanya.

Saya coba untuk menahan gejolak girang mendengar ada buku Pramoedya Ananta Toer. Saya langsung bangkit dan berjalan ke lapak yang dimaksud. Dan Alhamdulillah, saya bertemu buku Arus Balik karya Pram dengan harga super murah, Rp 90 ribu. Juga buku Bumi Manusia dengan harga Rp 80 ribu. Menggenggam dua buku itu, saya menjadi lebih yakin bahwa buku itu berjodoh dengan pemiliknya.

Dan soal “berjodoh” ini tidak ada yang bisa mendebat tentang keberuntungan. Maksudnya faktor keberuntungan sangat berperan dalam hal berburu buku. Terkadang saya menyusuri lapak buku sampai mata mau copot (maaf terlalu mendramatisasi) ternyata tidak mendapat buku bagus. Tapi, terkadang cuma butuh waktu 5 menit saja saya bisa dapat buku bagus-bagus.

Ketika saya tinggal di Surabaya sekitar tahun 2012 an, dan hampir tiap hari berada di antara lapak-lapak buku bekas, saya punya beberapa pelanggan penjual buku bekas yang jadi jujugan. Salah satunya mas-mas yang masih muda yang buku-bukunya tak tertata dengan rapi. Suatu siang saya mampir, dan langsung disodori Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa karya Clifford Geertz. “20 ribu saja” katanya yang langsung saya iyakan. Tak lama kemudian mata saya mendapati buku sampul putih berjudul Orang-orang Blomingtoon karya Budi Darma terbitan Sinar Harapan. “Itu 5 ribu.” Wow, saya keluarkan uang Rp 25 ribu dan dapat buku Geertz dan Budi Darma. Alhamdulillah.

 

III

Tiap penjual buku punya gaya sendiri. Oleh karena itu, tiap pembeli harus juga punya gaya sendiri. Itulah yang saya terapkan sampai kini. Sesuai pengalaman berburu buku di Kampung Ilmu (Surabaya), Pasar Buku Wilis (Malang), Pasar Senen (Jakarta), dan Shoping Center (Yogyakarta) tiap penjual punya kebiasaan berbeda-beda. Kita harus pandai-pandai memahami karakter penjual.

Ada tipe penjual yang agresif. Jika kita mendekati lapaknya, dia akan langsung bertanya buku apa yang kita cari, sastra atau politik, dan lain sebagainya. Kalau tujuan kita cuma berburu buku langka tanpa ada judul buku yang dicari, mendingan kita menjawab “lihat-lihat bang”. Karena jika kita menyebut satu jenis buku, pedagang agresif itu akan terus memburu kita agar membeli.

Tapi ada penjual buku bekas yang pasif banget. Ditanya selalu bilang “nggak punya”. Jika bertemu pedagang begini jangan mudah menyerah, kita harus sabar untuk meluangkan waktu mengamati sendiri buku-buku yang bertumpuk di rak-rak. Saya beberapa kali menemukan buku bagus berada di tumpukan komik bekas, karena ukuran bukunya sama. Diantaranya buku Roti dan Anggur karya Ignazio Silone terbitan Obor dan beberapa novel terbitan Obor lain yang memang punya ukuran kecil sama dengan komik. Soal harga juga menyenangkan, yakni ikut harga komik rata-rata Rp 3 ribu hingga Rp 5 ribu.

Dari berbagai tipe penjual lapak buku bekas, di Kampung Ilmu Surabaya saya merasa lebih cocok. Rata-rata penjual di sana tidak pasif dan juga tidak agresif. Tengah-tengah. Jadi kalau kita jawab “lihat-lihat saja”, mereka akan bilang “silahkan siapa tahu ada cocok” lalu kita dibiarkan melihat-lihat sepuasnya. Sehingga proses membongkar-bongkar buku jadi lebih tenang. Dan kalau pun tidak ada yang cocok, mereka akan biasa-biasa saja.

Tapi, jika mau mengenali karakter-karakter penjual lapak buku bekas, kita akan mudah untuk menyesuaikan diri. Di lapak buku bekas terminal Senen Jakarta misalnya, saya ada beberapa penjual yang meski nggak kenal akrab tapi beberapa kali belanja di situ. Meski berada di Senen, karakter penjualnya mirip pedagang di Kampung Ilmu Surabaya. Saya pun enjoy melihat-lihat dan memilih. Beberapa buku saya peroleh di lapak Senen ini. Diantaranya Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer yang cetakan lawas dengan foto Pram berkopyah di sampul belakang.

Saya juga masih ingat mendapatkan buku My Name Is Red karya Orhan Pamuk terbitan Serambi dengan harga Rp 15 ribu. Juga buku Burung-Burung Rantau karya YB Mangunwijaya dengan harga Rp 20 ribu. Saya senang berlama-lama berada di terminal Senen tersebut karena sekalian menunggu jadwal kereta api berangkat untuk pulang ke Bojonegoro.

Dan paling penting adalah banyak sekali pedagang buku yang bisa menjadi teman akrab dan berbagi informasi penting tentang buku-buku lama. Meski ada juga yang sekadar sok-sokan tahu banyak tentang buku lawas.

 

IV

Saya yakin hidup ini sudah diatur semua oleh Tuhan. Tuhan Maha Baik. Dan jika kau mencintai buku dengan keikhlasan hati, maka buku pun akan mencintaimu dengan sebenar-benarnya. Tapi pertama-tama yakinlah dulu bahwa buku juga mempunyai jiwa. Jiwa dalam tanda petik. Jiwa itu ditiupkan oleh penulisnya dan punya potensi untuk bersentuhan dengan kita sebagai manusia. Jika dua jiwa (yang satu tanda petik) bersentuhan maka kehidupan akan mekar bak bunga.

Tentu saja saya terlalu mendramatisasi realitas. Dan ini sudah saya lakukan sejak tulisan awal saya. Jadi tidak perlu kaget. Tapi cobalah mengakrabi buku dengan penuh perasaan, maka buku-buku yang kita baca serasa menjadi teman atau lawan yang bisa kita ajak ngobrol atau sekadar menemani kala kesepian. Selain itu buku bisa membikin cerita hidup kita yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Sesuatu yang benar-benar baru.

Saya menyukai buku sastra, meski selalu kesulitan menulis karya sastra. Berkat buku-buku sastra, lalu saya berkenalan dengan penyair Mardi Luhung. Saya banyak berdiskusi tentang buku, berburu buku bareng, dan juga ngopi bareng. Tak lupa saya selipi pertanyaan-pertanyaan yang bagi saya memberi banyak pengetahuan.

Berkat buku saya punya pengalaman menyenangkan, yakni beberapa kali ngobrol dengan Oi Hiem Hwie yang punya perpustakaan Medayu Agung. Saya pernah datang pagi, saya duduk menunggu beliau menyelesaikan pekerjaan sehari-harinya: mengkliping koran. Setelah itu saya diajak berkeliling melihat lihat koleksi bukunya. Masuk ke satu kamar yang khusus berisi buku Soekarno dan tentangnya. Usai ngobrol, saya naik ke lantai 2 dan melihat beberapa koleksi buku yang dijual.

Berkat buku juga, saya tahu nama Martin Aleida, seorang sastrawan terkemuka Indonesia. Saya coba-coba mengajukan permohonan wawancara. Meski wawancara itu lewat inbox Facebook, saya merasa beruntung sekali. Ceritanya saya dan teman-teman mengelola majalah Atas Angin di Bojonegoro. Saya coba mengirim pesan untuk bisa wawancara. Setelah menunggu agak lama, akhirnya ada jawaban yang membuat saya senang amat sangat. Pak Martin menyatakan siapa diwawancarai dan minta daftar pertanyaan. Saya langsung mengiriminya. Saya tak pernah menyangka Pak Martin begitu baik hati berkenan saya wawancarai, meski Atas Angin bukanlah komunitas besar, melainkan komunitas membaca yang berada di daerah pinggiran seperti Bojonegoro.

Berkat buku juga, saya mengenal nama Yanusa Nugroho, seorang sastrawan terkemuka Indonesia. Mirip seperti Pak Martin, saya juga mengajukan permohonan ke Pak Yanusa. Bedanya saya tidak mengajukan permohonan wawancara, melainkan memohon sumbangan cerita pendek untuk Atas Angin. Dan beliau ternyata mengiyakan dengan mengirimkan satu cerpennya. Sungguh luar biasa.

Cerita-cerita tentang buku dan para penulis banyak mewarnai perjalanan saya di dunia literasi. Berkat buku juga saya bisa ikut nimbrung di komunitas Sindikat Baca dan Atas Angin di Bojonegoro. Sebuah komunitas membaca yang banyak mempunyai arti bagi kehidupan saya.

Hmmm…..saya tarik napas panjang.  Saya sudahi saja tulisan ini. Satu kesimpulan yang terpenting, bahwa cerita-cerita yang saya tulis tak lagi “sangat rahasia” sebagaimana di judul tulisan ini. Maklum, judul tulisan ini sekadar untuk mengelabuhimu. Jangan terlalu dipercaya. Kalau isinya bagaimana? Terserah kamu saja, boleh percaya boleh tidak. Karena saya orangnya suka bercerita. Salam kopi cangkir!

Yogyakarta, 25 April 2018


Nanang Fahrudin, inspirator bagi kawula muda pecinta buku. Penggembala di Komunitas Literasi Atas Angin.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here