Home Buku Tentang Bagaimana Buku Membuat Saya Bhuk

Tentang Bagaimana Buku Membuat Saya Bhuk

50
0
Pixabay.com

Oleh mohamad tohir

PARA pakar di dunia ini, entah ilmuwan, penemu, negarawan, pemuka agama, kita semua tahu, pasti akrab dengan buku. Namun tak semua yang akrab dengan buku bisa seperti mereka. Jadi tak perlu gegabah bilang kalau ingin jadi seperti mereka, rajinlah baca buku. Buku tak menjanjikan apa-apa. Banyak orang-orang akrab dengan buku, mereka membeli, mengoleksi dan membaca, tapi tak pintar. Mereka bahkan gagap menghadapi persoalan hidup yang kian kompleks. Tanpa mengurangi rasa hormat, maaf, saya termasuk yang demikian.

Banyak orang yang sebenarnya kecele karena menganggap saya mahir urusan buku. Lucunya, macam-macam atribut lucu ditempel orang pada saya; perpustakaan berjalan, dewa teks, otak buku, selep buku, kekasih buku, dan sebagainya. Atribut-atribut itu tentu saja bertolak dari anggapan, bukan dari proses uji yang ketat. Anggapan itu dari hari ke hari kian lestari. Awalnya satu dua orang, tapi kini bisa jadi ratusan orang, jadi menggunung. Setiap orang memandang saya, dalam pikiran mereka pasti teringat buku. Saya selalu dikait-kaitkan dengan buku. Saya membayangkan, suatu ketika bangunan itu ambyar. Orang-orang kaget. Saya tertawa.

Dalam Hanya Bermodal Cinta, Shinta Ar menyebut nama saya. Dia mengatakan bahwa saya banyak berkontribusi untuk semesta pustaka perempuan yang kini jadi emak-emak super di Madiun itu. Saya disebut-sebut banyak memberikan dia pengaruh untuk memilih bacaan-bacaan tertentu. Padahal yang saya lakukan hanya sebatas bercerita kepadanya tentang garis besar buku yang saya sendiri tak memahaminya secara utuh. Garis besarnya saja tak utuh, belum lagi detailnya. Jujur, saya termasuk lelet memahami bacaan. Dan itu membuat saya menderita.

Saya sebenarnya iri dengan beberapa kawan di sekeliling yang nampak sumringah dengan buku. Mereka banyak merasakan bahwa buku berpengaruh besar dalam kehidupan sehari-hari mereka, mendorong karir semakin cemerlang dan memang semestinya buku layak berada pada makom demikian. Buku bisa berdayaguna macam-macam, mendorong gerakan sosial dan arah kebijakan politik tertentu. Dengan demikian, membaca buku, tak perlu lagi dianggap sebagai laku orang kesepian. Buku berubah menjadi sebuah senjata.

Saya sadar, semua itu tergantung pada cara kita membaca. Buku yang sama bisa memiliki guna yang berbeda buat masing-masing orang tergantung bagaimana cara bacanya. Karena itulah, agar sebuah bacaan tak berhenti pada bacaan, ada semboyan baca dan bergerak! Sebuah semboyan yang perlu ditancapkan kuat-kuat bagi para pembaca buku bahwa mereka punya tanggungjawab atas pengetahuan dan ilmu yang mereka peroleh dari laku membaca. Atau paling tidak, bergerak selaras selaras dengan kekuatan kapak yang memecah kebekuan diri. Mengutip Kafka, buku harus jadi kapak yang memecah lautan beku dalam diri kita.

Nah, saya membaca buku dan menyedihkan. Hingga saat ini masih berada dalam makom icikiwir sebagai pembaca buku. Saya adalah pembaca buku yang mojok di sudut dunia tanpa mau tahu bahwa dunia sedang bergerak dengan cepat seiring dengan tertulisnya sebuah kalimat dalam buku. Saya sulit untuk menjelaskannya secara pas.

Saya bukan sedang membuat parodi atau membentangkan ironi. Saya benar-benar sedang curhat, sebuah laku yang hingga saat ini tidak bisa membuat kelelakian saya bangga (meski curhat tak bisa ditimbang dengan ukuran kelamin). Mungkin sampai di sini belum terang persoalannya, belum jelas apa yang menjadi pokok curhat saya, ya.

Begini, Anda tentu pernah merasa kantung mata tiba-tiba ditarik oleh kekuatan kuat sekali agar menutup saat Anda baca buku. Sepintas kita menyangka itu adalah kantuk. Tapi saat buku diletakkan, beban berat di kantung mata itu lenyap. Itu saya yakin bukan saya sendiri. Sebab banyak sekali orang yang pernah curhat pada saya dan saya tidak bisa menjawabnya sebab saya juga demikian dan tidak tahu mengapa. Itu adalah problem yang menggelikan, bahkan masih berada di emperan semesta baca buku. Nah, saat ini saya tengah menemukan kesadaran baru mengenai hal itu di mana saya tak bisa menyebutnya sebagai kantuk. Meski saya sadar itu adalah pengalaman yang bisa jadi sekali tak mungkin terjadi pada orang lain, itulah yang ingin ceritakan di sini.

Saat menulis ini, saya tengah membaca In Cold Blood. Itu buku karya penulis Amerika, Truman Capote (1924-1984). Novel itu dianggap model apa yang kemudian hari kita kenal dengan sebagai jurnalisme sastrawi. Capote sendiri menyebutnya sebagai novel nonfiksi. Detail materi novel itu adalah realitas keseharian dari sebuah kasus kriminal. Capote melakukan investigasi sebagaimana operasi jurnalistik secara mendalam dan penuh kesabaran, tapi teknik penulisannya menggunakan cara-cara penulisan sebuah karya sastra –banyak bermain di kekuatan narasi, adegan dan plot. In Cold Blood sendiri bercerita tentang beberapa anggota keluarga yang dibunuh secara brutal di sebuah rumah. Penyelidikan polisi menghasilkan pertanyaan yang aneh, motif pembunuhan demi uang tak seberapa, hanya 42 dollar AS. Pembunuhnya ditemukan beberapa bulan kemudian. Bukan tentang pembunuhan ini yang menjadikan buku ini menarik dan membuat penulisnya melambung namanya, melainkan pada detail-detail kisah keluarga korban pembunuhan itu. Ceritanya sangat pelan sekali.

Saya begitu menikmati membaca novel itu. Kemana-mana saya bawa. Padahal banyak hal yang mestinya saya lakukan dengan cekatan, seperti mencari uang untuk makan sehari-hari dan untuk melunasi hutang, mendatangi walimah pernikahan teman, menjenguk anggota keluarga yang sedang sakit, membantu orang tua menanam padi di sawah, juga menulis catatan ini. Semua itu ternyata keleleran gara-gara buku itu. Saya seperti merasakan semacam petualangan ke dalam sebuah lorong yang melenakan. Saya seperti sedang kena pangaruh alkohol dan mabuk. Ya, mabuk, mungkin sebutan yang pas. Buku-buku tertentu, hingga saat ini, kerap membuat saya mabuk.

Kondisi demikian kerap saya alami. Tidak semua memang. Jenis dan judul buku tertentu. Buku-buku yang paling membuat saya demikian adalah karya Haruki Murakami. Saya begitu terkesima dengan kalimat-kalimat Murakami. Padalah saya membaca dalam bahasa Indonesia, apalagi dalam Jepang.

Apalah yang indah dari kalimat “tidak ada kalimat yang sempurna, sama seperti tak ada keputusasaan yang sempurna.”

Itu kalimat yang filosofis memang, tapi bukan karena itu saya terkesima. Bukan karena makna. Kalimat itu seperti hidup, berjalan kadang pelan, menunduk-nunduk, kadang menari, kadang meliuk-liuk. Entahlah. Tentu saja bukan kalimat itu saja, melainkan banyak kalimat dalam novel debut Murakami berjudul Dengarlah Nyanyian Angin itu. Saya kerap merasa ‘ngantuk’ tapi saya tidak tidur dan buru-buru meletakkan buku. Saya meneruskannya. Entah kenapa rasanya nikmat sekali. Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana detail rasa itu. Tapi, camkan ini, rasa itu muncul bertolak dari serangan kekuatan dahsyat yang menggantung di kantung mata itu. Saya urung untuk menyebutnya kantuk. Lebih pasnya mungkin seperti mabuk. Saya seperti habis ngganja atau njamur atau menenggak 5 butir pil koplo atau minum 3 botol slowdrink. Saya sampai begitu terkagum-kagum dengan kalimat-kalimat Murakami. Kalimat Murakami benar-benar biasa-biasa saja. Sama sekali biasa. Tapi setiap hurufnya terasa hidup, meloncat-meloncat hendak merengkuh dan mengelus kepala saya. Lekukan jenis font juga sangat memesona serta aroma kertas buku Murakami benar-benar wuah! Saya ingin menyebut sebuah istilah tapi entah apa. Yang pasti sensasinya beda dengan nenggak alkohol, pil koplo atau ngganja. Karena ada semacam suara dentuman saat berada di puncak keras rasa kantuk itu, saya menyebutnya bhuk. Ya, sebuah momen bernama bhuk. Secara fisik, rasa itu seperti kena godam di tengkuk. Rasa semacam kantuk hilang dan berganti jadi bhuk.

Buku-buku yang demikian itulah yang saya suka. Saya sebutkan sebagian; In Cold Blood karya Truman Capote, Norwegian Wood karya Murakami, Dengarlah Nyanyian Angin karya Murakami, 1Q84 karya Murakami, Burung-Burung Manyar karya Romo Mangun, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Dona Floor dan Kedua Suaminya karya Jorge Amado, Lelaki Tua dan Laut karya Ernerst Hemingway, Breakfeats at Tiffany’s karya Truman Capote, Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis karya Paulo Coelho, Mencari Islam karya para mahasiswa Islam (rata-rata aktivis HMI) angkatan 60an, Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata, Kitab Omong Kosong karya Seno Gumira Ajidarma, dan beberapa lagi.

Sekali lagi itu adalah buku-buku yang saya suka dan itu subjektif sekali, hanya karena mereka membuat saya bisa ngebhuk. Sementara memilih bacaan tentu bukan hanya bertolak dari suka dan tidak suka. Banyak buku penting dan berguna besar tapi tidak kita suka. Banyak sekali.

Sampai di sini saya jadi merasa berdosa. Perasaan ini muncul tiba-tiba saja. Saya merasa tidak mengamalkan anjuran Tuhan dalam hal membaca. Iqra’ Bismirabbika, kata Gusti Allah dalam ayat yang pertama kali turun itu. Bukan apa bacaan kita yang penting, melainkan cara kita membaca. Membaca yang diserta semangat bismirabbika, itulah pembacaan yang unggul. Dan itu adalah perintah agar kita mampu mengemban tugas sebagai khalifah di bumi ini. Membaca dengan semangat bismirabbika. Namun lagi-lagi, saya tidak suka. Sebab itulah saya merasa berdosa. Barangkali kekuatan dahsyat dalam kata-kata pada buku-buku yang bisa membuat saya ngefly itu adalah tipu daya satan. Sementara saya ngebhuk, satan cekikikan menertawakan saya. Jadi berlipat rasa berdosa saya. Perasaan berdosa saya makin berlipat lagi sebab saya enggan bertaubat. Saya tidak tahu mengapa demikian.

Aduh, saya mengeluh. Padahal saya lelaki yang tak suka mengeluh. Tidak mengeluh adalah salah satu laku, selain merawat bulu muka, yang membuat saya merasa lelaki.

Selain urusan pribadi saya dengan buku, yang yang saya anggap penting lainnya adalah persinggungan dengan banyak kawan yang akrab dengan buku. Mereka bermacam-macam modelnya. Ada yang maniak, ada kolektor, ada pembaca serius, ada yang ugal-ugalan, ada yang pas-pasan. Tapi saya merasa gembira bisa berkumpul dengan mereka. Mereka membuat saya gembira dan saya merasa gembira pula kalau, sekali lagi kalau, bisa membuat mereka gembira.

Dari Anas Age, saya belajar menghafal cara mendeteksi buku hilang dan teknik memoles wajah seakan-akan sudah baca buku tapi belum, dari Nanang Fa saya belajar membaca buku dengan sederhana dan pentingnya memaksa diri, dari Awe saya belajar membuat jaring-jaring pengetahuan dari titik tolak buku tipis, dari Danial saya belajar merinci kemungkinan-kemungkinan terkecil dari sebuah teks buku, dari Asri Ka saya belajarbergaya dengan buku, dari Wahyu Riz saya belajar meski tak paham isi buku bukan berarti tak boleh berbahagia, dari Olyvia saya belajar menjadi anak kecil yang membaca buku besar, dari Tulusno saya  belajar bahwa membaca buku tak perlu cepat, dari Okki Wisnu saya belajar bahwa saya bukan pemilik satu-satunya maniak, dari Okki saya belajar bahwa buku tak menjelaskan segalanya, dari Vera saya belajar tabah baca buku berseri, dari Shinta saya belajar tak bisa sembarangan menceritakan isi buku, dari Dian Wisnu saya belajar menjadikan baca buku sebagai laku yang lucu. Masih banyak yang harus saya sebut, Janoary, Sarwo M Djantur, Timur Budi Raja, Yonathan Rahardjo, Arizka, Cusnul, Baghas, dan lain-lain. Ruang di halaman ini telah sampai pada batasnya.

Kepada teman-teman semua inilah pengakuan memalukan ini saya buat. Saya malu sebenarnya. Tapi apa boeh buat, masak Tulusno nulis saya nggak nulis ya lebih malu lagi. Saya sengaja tidak cerita tentang bagaimana awal saya dekat dengan buku, sebab itu lebih memalukan. Seingat saya buku-buku yang yang saya baca saat kecil adalah sebuah cerita bergambar entah apa judulnya. Saya dibimbing oleh budhe saya saat itu untuk membaca tulisannya. Adegan yang sangat saya sukai adalah pembunuh bayaran yang memotong kuping seorang pendekar pemabuk. Kalau boleh mengaku, saat itu saya ingin jadi pembunuh bayaran dan memotong telinga orang. Aduh, malah cerita.

Yang jelas, saya merasa harus berterimakasih kepada mereka semua sekaligus minta maaf karena kerap memakai topeng kepalsuan seakan-akan saya akrab dengan buku tertentu. Saya sadar betul bahwa semesta buku menghamparkan berbagai lapisan kemungkinan dan saya hanya bisa menangkap sebagian kecil dari kemungkinan itu. Pada akhirnya saya tak pernah benar-benar utuh membaca. []

Klampok, 24 April 2018


mohamad tohir, cowok ganteng 29 tahun, belum pernah pacaran, banyak makan, banyak baca buku tapi tak selesai, punya niat menulis banyak buku.

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here