Home Catatan Apalah Arti Sebuah Nama

Apalah Arti Sebuah Nama

339
0
Toko Buku Shakespeare and Company di Paris

Oleh Ikal Hidayat Noor

WILLIAM Shakespeare, seorang penyair cum dramawan asal Inggris dan salah satu dari sedikit penulis jenius yang pernah ada, pernah berkata seperti ini: apalah arti sebuah nama, seandainya kau memberikan nama lain untuk mawar, ia akan tetap berbau wangi.

Tapi benarkah demikian? Coba mari kita perhatikan sekililing.

Seringkali kita menyaksikan seseorang tumbuh dengan percaya diri sebab nama yang diberikan ayah dan ibunya saat walimatut tasmiyah adalah nama yang luar biasa bagus. Sedangkan beberapa lainnya menderita, menunduk malu seperti membawa beban berat seumur hidup karena nama yang didapatnya benar-benar aneh.

Jika kelahiran, jodoh dan kematian adalah takdir yang telah dipilihkan tuhan, maka nama adalah takdir yang dipilihkan oleh orang tua kita. Kita sama-sama tak punya kuasa untuk menolak keduanya.

Ketika duduk di bangku sekolah dasar, saya punya seorang teman yang merasa sial karena diberi nama yang sama sekali tidak aduhai: kacung. Barangkali ia masih mujur karena nama tersebut tidaklah benar-benar buruk. Ia bisa saja mendapatkan nama-nama lain yang jauh lebih absurd seperti: kucing, kumis, gento, gendon, kemenyan, atau vibrator. Tapi permasalahanya adalah, nama itu membuatnya diremehkan. Tak hanya oleh kawan sepantaran, anak-anak kecil yang rentang usianya jauh di bawahnya pun ikut meremehkannya. Berkali-kali ia cerita kepada saya, ingin punya nama seperti bintang film, penyanyi pop atau para nabi.

Nama adalah sebuah doa, saya mengaminkan itu. Saya mendapat nama Misbahul Munir dari kedua orang tua saya, yang artinya adalah; lampu yang bercahaya atau lampu yang terang. Tak diragukan itu adalah doa yang baik, dan saya senang. Meski kadang saya merasa itu adalah tugas yang berat. Kalau Spider Man atau Iron Man punya misi menyelamatkan dunia, setidaknya saya mengemban tugas  untuk menjaga suatu ruang agar senantiasa bercahaya. Tapi seandainya saya boleh meminta, saya ingin menjadi pelangi yang datang sesekali saja, atau bintang yang memiliki banyak teman di langit malam, bukan lampu yang berpotensi kesepian dan menyala sendirian di sebuah ruangan.

Di lain waktu, nama adalah identitas untuk sebuah keluarga, kebangsawanan, suku, kasta, atau bahkan agama. Misalnya kita bisa dengan mudah mengenali agama seseorang dari namanya. Seorang yang bernama Ahmad, Rizki, Yusuf, Ilham, Baihaqi, tentu tanpa perlu melihat KTP yang bersangkutan atau mencarinya di google, kita segera tahu bahwa ia beragama Islam. Dan orang-orang yang bernama Joseph, Immanuel, Mattias dan yang senada, sudah sewajarnya beragama Kristen.

Selain mempertimbangkan agama, pemberian nama juga biasanya melibatkan tokoh agama. Paman saya misalnya, ia memiliki empat anak dan semua nama anak-anaknya adalah buah karya seorang kyai. Ia merasa takut dan khawatir jika sembarangan memberi nama, anaknya akan bertabiat buruk atau bernasib sial. Dan kemungkinan semacam itu setidaknya sedikit bisa dijauhkan bilamana  nama anaknya diberikan oleh seorang saleh, yang notabene mereka adalah kekasih Tuhan.

Tetangga saya, Lek Mufid, barangkali punya keyakinan yang berbeda. Ia berpendapat bahwa yang paling berhak memberikan nama adalah si ibu bayi. Bukan ayahnya, tetua keluarga atau kyai. Ibu adalah sosok yang paling berjasa atas kehadirannya di dunia ini, ia punya saham paling banyak (setelah Tuhan) dalam diri bayi, oleh karenanya sah-sah saja jika ia ingin memberikan nama sekehendaknya.

Selain yang saya sebutkan tadi, nama adalah wujud kegilaan orang tua terhadap suatu hal, atau cita-cita yang tak pernah sampai. Dari sekian hal yang saya uraikan di atas, ini adalah yang paling brengsek. Ini adalah bukti bahwa manusia benar-benar makhluk yang egois dan kekanak-kanakan. Bayangkan saja, seorang ayah yang cinta mati pada klub sepak bola tertentu atau ibu yang mengagumi salah seorang pemain sepak bola, tanpa merasa punya beban memberi anak mereka nama yang sama seperti idolanya: Ronaldo atau Barcelona. Apa yang terjadi jika di kemudian hari si anak membenci sepak bola, dan bercita-cita ingin menjadi seorang menteri agama.

Saya memiliki teman perempuan yang kebetulan sekelas ketika aliyah. Ia diam-diam mengagumi salah seorang lelaki yang juga teman sekelas kami. Tapi ia tak pernah berani mengungkapkan perasaannya sampai masa putih abu-abunya usai. Lima tahun setelahnya kami bertemu lagi di acara reuni sekolah. Dia sudah menikah dan memiliki seorang anak lelaki, dan saya hanya bisa geleng-geleng kepala ketika tahu bahwa nama anaknya sama seperti nama cinta tak sampainya itu.

Saya sendiri melakukan hal yang sama. Selain nama yang diberikan kedua orang tua saya, saya mempunyai nama lain yang saya pilih sendiri. Di dunia kepenulisan, dunia panggung hiburan pun berlaku hal yang sama, seseorang boleh memiliki nama pena. Banyak sekali contohnya, baik penulis luar maupun dalam negeri. Saya pun memilih nama yang lain: Ikal Hidayat Noor. Seorang berambut ikal yang mendapatkan petunjuk cahaya, kurang lebih seperti itu jika ingin dicari artinya. Tapi sebenarnya yang penting dari nama itu bukan soal arti, melainkan sejarah. Dari milyaran nama yang mungkin bisa saya ambil, bagaimana saya bisa sampai pada nama itu.

Ikal Hidayat Noor adalah nama yang saya plesetkan dari nama seorang perempuan, cinta pertama saya: Ika Nur Hidayah. Saya tidak ingin bercerita kisah sedih yang menempel pada nama itu, terlalu panjang. Saya mulai menggunakan nama itu, dan memperkenalkannya, di tahun 2009 akhir, dimana saya mulai menggunakan facebook. Banyak teman-teman mts dan aliyah saya yang langsung bisa menangkapnya, dan lantas menuduh saya adalah lelaki yang susah move on. Saya hanya bisa tersenyum menanggapinya. Ada pun kepada teman-teman baru di jakarta yang melewatkan kisah kasih di sekolah saya, saya berusaha mengarangkan sebuah alasan:

Ikal. Dulu saya gondrong dan kebetulan berambut ikal, selesai masalah. Ditambah lagi saat itu, saya juga sangat menyukai novel Andrea Hirata: Tetralogi Laskar Pelangi. Tokoh sentral dalam novel itu bernama Ikal, dan sialnya kami sama-sama mendapat kutukan tak bisa melupakan cinta pertama. Ketika saya menggunakan nama Ikal, hampir semua teman-teman saya percaya, saya memakai nama itu semata-mata karena saya ngefans dengan tokoh Ikal di novel tersebut yang tak lain adalah andrea hirata sendiri.

Hidayat. Saya senang dengan kata hidayat. Saya tidak punya alasan lebih untuk diterangkan. Adapun noor, dan kenapa harus ditulis dengan dobel ‘o’, bukan satu saja, atau malah ‘u’? Di awal proses membaca dan berlatih menulis cerpen, selain mengagumi karya-karya Seno Gumira Ajidarma, saya juga sangat suka dengan karya Agus Noor. Seorang penulis asal Jogja yang senang menulis tentang kunang-kunang dan kenangan. Noor di sana juga merujuk pada Acep Zamzam Noor, salah satu penyair yang saya sukai puisinya.

Cukup sudah. Itu adalah nama yang sempurna, dengan filosofi yang tak remeh. Saya pun memakainya dan terus merahasiakan nama seorang perempuan di balik nama itu.

Tapi lambat laun, saya mulai sadar, bahwa saya sedang menjebak seorang perempuan di dalam diri saya. Saya mulai bertanya, apakah dia rela? Tiba-tiba saya merasa bersalah. Saya beberapa kali menghubungi Ika Nur Hidayah, tapi saya memang buruk dalam hal komunikasi, sampai dia  merasa perlu memblokir facebook dan whatsapp saya. Barangkali ia merasa jengkel melihat namanya saya curi, dan kisah hidupnya tak henti saya tuliskan.

Saya pernah mengganti nama pena saya menjadi Haikal Nursyam dan Em Munir, untuk membebaskan cinta pertama saya dari penjara yang saya buat. Tapi saya mendapatkan protes dari beberapa teman saya. Kata mereka, Ikal Hidayat Noor itu sudah saya banget. Dan jujur, saya juga merasa sangat nyaman dan mendapatkan semangat menulis ketika mengetikkan nama tersebut di bawah judul tulisan, baik cerpen, puisi atau pun esai. Saya pun kembali memakai nama itu. Meletakkannya pada sampul buku kumpulan cerpen saya yang berjudul Sebelas Keping Cerita dan kumpulan puisi saya Patung di Kepala.

Sampai saat ini, saya masih berharap ia merelakan namanya untuk saya. Jika ia tak lagi mengizinkan hatinya untuk saya isi, paling tidak ia membiar saya merawat kenangan dalam sebuah nama. Dan saya dengan senang hati akan menyelipkan doa dan tak habis-habisnya memohonkan kebahagiaan untuknya.

Ah, tiba-tiba saya ingin berkata padanya: apalah artinya sebuah nama.

—————————————————–

Ikal Hidayat Noor, penyair muda, mengabdi di Pesantren As-Salam Bangilan Tuban. Pemilik jalursebelas.wordpress.com

Sumber Foto Dhico Velian – WordPress.com

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here