Home Buku Aku, Keluarga dan Selingkuhanku

Aku, Keluarga dan Selingkuhanku

153
0
gramedia.com

oleh nidhomatum mr.

Ibu Rumah Tangga (IRT), pekerjaan full time yang kerapkali tak terlihat seperti pekerja. Gimana nggak full time? Pekerjaan IRT nonstop siang malam dengan seabrek tugas mulai memasak, mencuci, menyetrika baju, momong anak hingga pekerjaan tak terduga lainnya -nongkrong di WC nungguin anak BAB misalnya- jadi rutinitas harian yang selalu dijalani dengan “keikhlasan”, meski kadang ada kalanya ngeluh, asal “kadang-kadang” saja jangan “terus-terusan”.  Hehehe….Sebagai emak-emak, atau bahasa kerennya MaMud alias Mamah Muda kini saya juga menjalani peran sebagai IRT. Kalau ditanya gimana rasanya jadi IRT? Jawabnya, Nano-Nano deh….manis, asem, asin.

Pernah suatu hari, Pak Su alias Pak Suami menawarkan, apa perlu menggaji orang buat bantu-bantu saya? Alasannya, biar saya nggak capek. Saya sih aslinya oke-oke saja dengan tawaran “menggiurkan” itu, tapi setelah dipikir-pikir lagi kayaknya uang buat gaji lebih enak dibeliin “cilok” deh, lumayan bikin kenyang perut. Alhasil, saya tetap memilih tanpa asisten rumah tangga, dan mengerjakan semuanya berbagi tugas dengan Pak Su. Emansipasi gitu niatnya, jadi meski jadi suami, Pak Su tetap punya tugas rumah tangga, seperti cuci piring hingga momong buah hatinya.

Ya…. hidup memang pilihan. Termasuk, menjadi IRT yang tetap update nutrisi pengetahuan juga jadi pilihan. Itu yang saat ini coba saya lakukan. Meski jadi IRT, yang pekerjaannya berkutat di rumah, biar nggak ketinggalan kereta informasi, saya tetap menyempatkan diri buat buka-buka dan baca buku lho. Kuncinya, harus lihai jadi ‘pencuri’, curi-curi waktu buat “selingkuh” dari tugas IRT. Kalau nggak lihai jadi ‘pencuri’ ya repot. Siang sibuk momong, kadang anak tidur, niatnya ngelonin malah ikut ketiduran. Malam sibuk lagi, sudah menyiapkan diri buat menyeterika baju, ditinggal menina-bobokan si Unyil, malah ikutan ngorok. Hehehe… Dasar, penyakit emak-emak. (Kalau ada yang begitu, kayaknya memang kita seperguruan).

Saya biasanya menyempatkan diri “selingkuh” dengan buku, malam menuju dini hari ketika Si Unyil sama Pak Su lagi bernostalgia di negeri kasur. Ada lagi, waktu selingkuh yang pas, kalau siang hari kala si Unyil lagi main sama teman-temannya, atau ketika dia tidur dan Si Emak ini nggak ikut ketiduran. Hehehe…

Karena saking pintarnya “selingkuh”, pernah suami heran waktu saya bisa dalam waktu singkat membuat resensi buku. “Emang kapan kamu baca buku,” tanyanya. Pernah juga dia heran waktu saya menerima hadiah buku sekardus penuh, plus uang pembinaan yang lumayan banyak hasil karya tulis saya dalam lomba penulisan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) tahun lalu. Nama dan karya tulis saya pun masuk dalam buku bunga rampai “Jejak Perjuangan Keulamaan Perempuan Indonesia” yang diterbitkan dalam rangka KUPI 2017. Pak Su pun bertanya-tanya:

“Emang kapan kamu nulis karya tulis nya?”

“Belum tahu dia kalau istrinya ini ‘selingkuh’,” pikirku, hehehe.

Buat emak-emak, AYO SELINGKUH, yuk….!!!

Nidhomatum MR, emak-emak super, membaca setiap hari, menulis setiap hari. Aktif di gerakan perempuan NU. Asal Bangilan-Kapas-Bojonegoro, kini tinggal di Jakarta.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here