Home Buku Aku dan Buku, dari Benci Jadi Cinta

Aku dan Buku, dari Benci Jadi Cinta

105
0
pixabay.com

oleh mohamad ilham

ILHAM. Ya, sebut saja Ilham. Seorang anak nakal dan pemalas yang tinggal di salah satu desa yang bernama Liu. Desa Liu ini terletak di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan yang sangat jauh dari pusat keramaian. Anak-anak yang tinggal di Liu sangat tertinggal, baik dari segi teknologi maupun segi pendidikan. Sehingga banyak yang keluar meninggalkan kampung halamannya dengan berbagai alasan. Ada yang ikut suami, ikut istri, bekerja dan atau melanjutkan pendidikan seperti saya.

Pada tahun 2012 saya meninggalkan kampung halaman dan berpamitan kepada kedua orang tua saya dan meminta doa restu supaya tujuan saya merantau melanjutkan pendidikan berjalan dengan lancar. Saya  melanjutkan pendidikan di salah satu kota besar yang ada di pulau Jawa yang pernah menjadi Ibukota Indonesia. Ya, benar, kota Yogyakarta. Kota ini diberi julukan kota pelajar.

Awal masuk kuliah tahun 2012 dan selesai tahun 2017. Saya menempuh pendidikan selama 4 tahun 5 bulan. Setelah selesai kuliah saya langsung dapat tawaran kerja di salah satu media online di Yogyakarta. Awalnya saya tidak mengerti apa-apa tentang media tersebut, tapi saya langsung mengiyakan saja daripada nganggur, he he.

Tanggal 1 Mei 2017 awal saya masuk bekerja dan berkenalan dengan senior-senior kantor.  Di kantor ini saya menemukan hal yang belum pernah saya temukan selama saya di kampung, yaitu rata-rata karyawan memiliki hobi membaca. Pantas saja di atas meja kerja mereka tersusun banyak buku. Saya sempat berpikir apa sih manfaat membaca itu? Buang-buang waktu saja. Saya memang sejak lahir hingga sampai bangku kuliah tidak senang membaca buku. Jangankan novel, bahkan buku pelajaran pun saya malas membukanya.

Salah satu teman kerja yang memiliki hobi membaca adalah mas Nanang, seorang bapak dua anak berasal dari Bojonegoro. Tidak hanya hobi membaca buku, tapi mas Nanang ini juga sudah pernah menulis buku. Setiap mas Nanang lewat di depan saya, pasti di tangannya ada buku. Hal itulah yang membuat rasa penasaran saya tentang membaca buku. Saya pun sering meminta tips sama mas Nanang supaya saya bisa memulai dan cinta membaca buku yang sejak dulu nggak pernah terpikirkan.

Suatu ketika sepulang kantor mas Nanang mengajak saya ke suatu tempat. Meskipun saya tidak tahu mau diajak ke mana, tapi saya tetap ikut. Mas Nanang menyalakan motor dan menuju tempat tujuan. Di atas motor kami mengobrol dan mas Nanang pun memberi tahu bahwa kita mau ke tempat percetakan buku.

Setelah pulang dari percetakan, saya sama mas Nanang singgah di angkringan. Mas Nanang menyantap nasi kucing dan memesan susu jahe sedangkan saya memesan susu jahe saja karena saya masih kenyang. Sambil makan dan menunggu adzan maghrib, kami pun mengobrol santai. Adzan maghrib pun tiba kami langsung menunaikan ibadah shalat magrib di musholla komplek toko buku. Setelah selesai melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim, kami pun menyalakan motor menuju salah satu toko buku murah. Niat saya tidak membeli buku karena memang tidak suka membaca. Niat hanya menemani mas Nanang saja. Sesampai di toko buku saya meminta tips, dan minta tolong sama mas Nanang untuk memilihkan buku yang cocok untuk pemula. Mas Nanang tidak memilihkan, cuma berkata kamu pilih aja sesuai seleramu. Akhirnya kami berdua tidak ada yang beli buku.

Berawal dari menemani  mas Nanang ke percetakan buku, saya mulai kepikiran untuk meniru hobi unik mas Nanang itu. Saya pun memulai sedikit demi sedikit membaca. Kebetulan “adik” saya suka membaca buku dan memiliki beberapa novel. Saya pun meminjam novelnya yang ada di rak buku. Di rak bukunya terdapat beberapa buku tapi saya ambil buku secara sembarangan aja. Kebetulan buku yang saya ambil berjudul “If You Could, Bila Saja Kamu Bisa” karya Cynthia Febrina yang bercerita tentang menerima kelemahan orang lain dan menerima hidup yang tidak sesuai keinginan. Saya memilih buku ini bukan karena tertarik membacanya tetapi tujuan saya adalah supaya memicu dan membakar semangat saya untuk mencintai membaca buku yang dulunya tidak pernah terpikirkan.

Awal membaca buku memang tidak menarik bagi saya. Tetapi saya mencoba melawan rasa malas saya dan alhasil di pertengahan If You Could ini saya sudah punya sedikit ketertarikan untuk membaca. Setelah saya menamatkan membacanya, saya pun ditawari buku oleh adik saya yang berjudul “Ubur-ubur Lembur” karya Raditya Dika. Kata adik saya, cerita buku ini lucu. Akhirnya saya pun membacanya. Bukan karena tertarik, tapi pengen memicu supaya saya benar-bener punya kebiasaan membaca seperti teman saya itu.

Di buku “Ubur-Ubur Lembur” inilah saya menemukan hal menarik tentang membaca. Ternyata lewat membaca kita juga bisa tertawa dan senyum-senyum sendiri, tidak hanya lewat ngobrol dan bercanda sama teman. Buku “Ubur-Ubur Lembur” ini adalah buku komedi Raditya Dika yang bercerita tentang pengalamannya belajar hidup dari apa yang dia cintai, sambil menemukan hal remeh untuk ditertawakan di sepanjang perjalanan yang isinya diangkat dari kisah nyata. Alhasil saya pun menamatkan buku “Ubur-Ubur Lembur” ini.

Buku selanjutnya yang saya baca adalah buku “Rumah Tangga” karya Fahd Pahdepie. Buku ini saya pinjam dari teman kantor. Berbeda dengan alasan sebelumnya, saya pilih buku ini bukan karena hanya untuk memicu supaya bisa memiliki kebiasaan membaca, tapi saya karena tertarik, apalagi umur saya sudah 25 tahun dan sudah sangat cocok untuk membaca buku, tentang rumah tangga, he he. Buku ini bercerita tentang kehidupan rumah tangga dari awal hingga mempunya anak. Lewat buku ini saya juga sering menghayal tentang kehidupan apabila saya sudah berumah tangga besok, he he. Mimpi kan boleh? Dan saya pun membaca buku “Rumah Tangga” ini sampai selesai.

Buku selanjutnya saya pinjam dari ruang kerja mas Nanang. Kata mas Nanang, buku itu juga menarik. Buku ini berjudul “Menggenggam Dunia” karya Gol A Gong. Akhirnya mas Nanang memberikan rekomendasinya di mana dulu hanya disuruh milih buku sesuai selera.
Benar kata mas Nanang, isi buku ini memang manarik. Bukan hanya sekadar baca, tetapi lewat buku ini saya juga mendapat motivasi kehidupan. Karena buku ini bercerita tentang seorang penulis yang sudah cacat sejak usia 11 tahun tapi tidak membuatnya berhenti bermimpi. Bahkan dengan satu tangan, ia sempat menjadi atlet badminton dan mengunjungi 8 negara Asia sambil terus menulis. Lewat membaca buku ini, begitu banyak motivasi yang keluar dari dalam diri saya. Salah satunya adalah kita jangan takut bermimpi untuk meraih sesuatu. Orang yang memiliki kekurangan fisik saja bisa meraih mimpinya bahkan keliling dunia, apalagi yang sempurna.

Lewat beberapa buku di atas, akhirnya saya sudah menemukan hal menarik dalam membaca, yang dulunya tidak saya sukai sama sekali menjadi kebiasaan. Bahkan saya sering kepikiran untuk menulis kisah saya mulai dari hidup di pelosok hingga keluar melihat ‘dunia nyata’.

Jangan telalu membenci sesuatu, karena yang kamu benci itu bisa menjadi hal menarik buat dirimu, cuma kamu belum tahu kapan itu menjadi menarik buat dirimu.


Muhammad Ilham, pemuda kekinian. Asal Desa Liu, Kabupaten Wajo, Sulawesi-Selatan. Kini tinggal Umbulharjo, Yogyakarta, bekerja di brilio.net

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here