Home Bengkel Menulis Ajaran Sing Tenanan, Ngobrol dengan Dhe Uban

Ajaran Sing Tenanan, Ngobrol dengan Dhe Uban

650
0

 

Oleh Linawati

 

dfds
dokumentasi Dhe Uban

BELIAU MEMPERKENALKAN diri dengan nama Dhe Uban. Nama sebenarnya Aris Harianto. Entah kenapa dan siapa yang menjuluki nama itu, Dhe Uban sudah tak ingat. Namun Dhe Uban ini sudah begitu nyaman dengan panggilan itu. Nama aslinya kalah dengan nama wadanannya.

Siapa yang tidak mengenalnya? Orang yang aktif di PSJB (Pamarsudi Sastra Jawa Bojonegoro), sebuah forum yang menggali dan menekuni sastra bahasa jawa, ini selalu mengikuti forum yang terbuka. Forum yang tidak selektif untuk memasukinya dan selalu berkumpul bila sudah waktunya. Dhe Uban juga pernah aktif di Sayap jendela, juga kelompok-kelompok teater yang bertebaran di Bojonegoro ini.

“Siapapun yang bersentuhan dengan teater mengenal saya,” kata Dhe Uban.

Kini beliau aktif di sebuah gerakan seni tari tradisional. Yaitu jaranan alias kuda lumping, tari tradisional yang berasal dari Ponorogo dan dikembangkan di daerah-daerah lain, termasuk Bojonegoro ini. Saat ini banyak yang menyaksikan pertunjukan ini.

Namanya Turonggo Muda Bhirawa. Sebuah kelompok yang menggemari tari jaranan juga reog. Tari ini mementingkan spiritual, dengan adegan kesurupan (kemasukan makhluk halus). Adegan seperti ini yang menjadi syarat wajib saat pentas jaranan.

“Muda Bhirawa adalah sebuah sanggar untuk membangun kebersamaan. Bhirawa artinya semangat, jadi Muda Bhirawa seorang pemuda yang mempunyai semangat yang luar biasa untuk mendapatkan apa yang diinginkannya,” Dhe Uban menjelaskan.

Dhe Uban adalah orang yang periang. Beliau seperti tidak ingin suasana yang kaku dan tegang. Seseorang dengan rambut putih dan dikucir ini nampak tertawa terbahak-bahak. Ketika kami tanyakan tentang kesurupan.

“Orang itu bisa kesurupan karena melamun dan pikirannya kosong. Makanya kalau nonton jaranan jangan galau. Habis diputus pacarnya nonton jaranan ya kesurupan! Apalagi kalau perutnya yang kosong”.

Memang benar. Orang yang pikirannya kosong sangat rawan dan mudah kemasukan. Di kelompok kuda lumping Muda Bhirawa ini selalu menampilkan hal yang beda. Prinsip Muda Bhirawa dikemas untuk beda dari yang lain.

“Jaranan itu singkatan dari ( ajaran sing tenanan ). Kelompokini berdiri pada tahun 1996. Muda Bhirawa adalah nama yang ke-empat. Nama sebelumnya Turonggo Agung Dwi Joyo Laras (ini nama pertama). Kedua Turonggo Jati, ketiga Turonggo Agung dan yang terakhir hingga saat ini Muda Bhirawa yang mempunyai arti Pemuda Perkasa Dan Semangat,” jelas Dhe Uban.

Jaranan diambil dari cerita rakyat. Yaitu Prabu Singo Barong dikalahkan pasukan kuda alias pasukan dari Prabu Kelono Sewandono. Pada saat itu singo barong menggambarkan nafsu manusia yang begitu beringas.

“Ketika putri Songgo Langit meminta syarat dari Klono Sewandono untuk menampilkan sebuah pertunjukan yang belum pernah dilihat. Akhirnya Klono Semanggono membuat pertunjukan yang disebut reog.”

Perangkat jaranan yang paling populer adalah Kadak Merak. Kadak Merak ini kumpulan dari bulu merak yang disusun rapi diatas cepaplok. Kadak Merak hanya bisa dikendalikan oleh satu orang saja. Sedangkan berat dari Kadak Merak ini sekitar 70 kilogram. Dan cara menggunakannya, orang akan masuk di lubang cepaplok yang sudah didesain khusus lalu menggigit pengendali dari Kadak Merak itu sendiri. Harga Kadak Merak kurang lebih tiga belas juta rupiah. Turonggo Muda Birawa baru membelinya dari Ponorogo. Biasanya menyewa.

Kuda Muda Bhirawa ini berbeda dari kelompok kuda lumping yang lain. Ukuran kudanya besar tampak begitu gagah ketika penari menungganginya sambil meleak-leokkan kepala serta ekor kuda yagn berasal dari rafia itu. Biasanya yang menjadi penari kelompok anak SMA, SMP bahkan SD. Setiap pentas menampilkan enam penari cewek dan cowok atau lebih, juga ganongan, bujang anom, kadak merak. Ketika pentas bisa mencapai dua puluh enam orang dengan karakter yang berbeda-beda.

Didalam jaranan ada adegan ndadi yaitu ketika salah seorang penari atau warognya kemasukan makhluk halus.

“Adegan ndadi ini adalah atraksi yang paling ditunggu-tunggu orang. Saat penari ndadi, dia bisa makan beling, wowo (baca ; bara. Biasanya dari kayu yang usai dibakar dan masih menyisakan panas dan nyala merah. Bara ini lebih panas dari api), bahkan sampai makan sapi,” terang Dhe Uban. “Tentu saja sapi hidup,” tambahnya.

“Saat ndadi itu saya sudah tidak merasakan apa-apa lagi. Saat makan beling, sapi. Itu bukan kendali saya dan ketika ndadi sampai lama belum sadar-sadar juga itu biasanya kiriman. Maksudnya kiriman makhluk yang akan mengisi jiwa seseorang yang ndadi” jelas Agung. Agung ini adalah anak dari pemilik atau ketua Turonggo Muda Bhirawa, Suroso.Agung mengaku pernah ndadi.

Selain ada ritual ndadi, ada ritual membakar menyan. Ini sudah tradisi dan secara turun temurun.“Ritual membakar menyan dicampur dengan minyak srimpi, hanya untuk wangian saat jaranan menari,” jelas Dhe Uban.

Alasan Dhe Uban menyeriusi jaranan ini karenajaranan termasuk produk kesenian yang ada falsafahnya. Falsafah hidup jaranan mengisahkan tentang peperangan Prabu Celeng Wangi dan Prabu Singo Barong yang menggambarkan nafsu manusia. Ini adal;ah cerita intinya yang dimanapun sama.

Ada beberapa musik yang mengiringi tari jaranan. Kendang dan balungan. Balungan ini terdiri dari beberapa benda seperti demong, saron, kempul, kenung, dan terompet. Muda Bhirawa ini menggunakan musik modernberaransemen Jawa. Alat musik di Muda Bhirawa mempunyai corak yang unik. Warnanya hijau dengan garis-garis yang teratur. Ini juga ada sejarahnya. Warna hijau dengan corak garis menunjukan semangat anak muda seperti tentara yang berperang.

Muda bhirawa ini biasa pentas di acara pernikahan, khitanan bahkan ulang tahun. Tari jaranan biasa malam hari sampai dini hari (pagi buta).

Muda Bhirawa tidak hanya ditanggap di daerah Bojonegoro saja, salah satunya kota Tuban. Atraksi dari muda bhirawa yang beda inilah yang membuat orang terkesan.

“Manusia bisa disebut manusia apabila sudah punya arti bagi manusia lain.” Ujar Dhe Uban menasehati kami sebelum berpamitan.

 

Linawati adalah siswa SMK Negeri 1 Bojonegoro.

Asli Desa Klino, Kecamatan Sekar.

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here