Home Uncategorized ADA APA DENGAN SHERINA?

ADA APA DENGAN SHERINA?

397
0

Reportase Arisan Buku :Mohamad Tohir

Buku :SHERAISER BOJONEGORO (Atho’ RM. Sasmito)

Disampaikan Oleh Parto Sasmito

Arisan Buku“Ada yang istimewa kali ini. Kalau pada Arisan Buku di beberapa edisi yang lalu kita mbahas buku-buku hebat dunia, mulai dari Pram, Ahmad Tohari, Ernest Hemingway, dan yang terakhir kemarin Anne Frank, maka sekarang tak ke mana-mana. Buku itu ditulis oleh orang yang barangkali kita sering bertemu,” saya memulai perbincangan.

“Pengarangnya ada di tengah-tengah kita sekarang,” tambah saya.

Sabtu malam (05/10/2013), mereka, Shinta, Wulan, Ferdi, Rizky, Minan, Parto dan saya sendiri berkumpul di Rumah Baca. Kami duduk melingkar merubung botol kopi dan teh tubruk, juga tumpukan buku-buku; Botchan karya Natsume Soseki, sebuah buku tebal tentang Focault, Sherlock Holmes karya Sir Arthur, Namaku Matahari Remy Sylado, Kebenaran yang Hilang karya Fouda, kumpulan kolom Abdurrahman Wahid (Membaca Sejarah Lama), dan lain-lain.

Sheraiser  (SB) judul buku itu. Ditulis oleh Atho’ RM. Sasmito, yang hadir di tengah kami. Bulan lalu saat pengundian, namanya yang muncul untuk menyajikan sebuah buku di pertemuan depan, malam ini. Dua minggu sebelum pertemuan ini, dia menanyakan pada saya, selaku koordinator, apakah boleh membahas bukunya sendiri. Lho, apa saja boleh, jawab saya enteng. Memang, kami tak memiliki batasan judul atau jenis buku apa yang akan menjadi bahasan. Mengenai bacaan, kecenderungan orang membaca pada mulanya adalah berdasar kesukaan. Pembaca kitab suci yang tulen akan jengah membaca majalah Play Boy Indonesia (bacaan kesukaan saya) tentu saja, kami tak ingin memaksakan.

“Daripada promosi buku orang, mending promosi buku sendiri,” begitu Parto bilang. Yayaya, selamat Bung!

Pada pengantarnya, Parto bilang bahwa bukunya adalah sebuah gebrakan pada dunia menulis. Dia memadukan sebuah lirik lagu beserta judulnya dengan isi masing-masing bab (ada 24 bab). Semuanya adalah lirik lagu Sherina Munaf. Tentu saja, judulnya memang Sheraiser.

“SB adalah pop banget. Saya agak nggak ngeh dengan karya pop dahulunya (saya lupa bahwa saya adalah penyuka karya Fredy S.). Tapi belakangan ini saya bersinggungan dengan buku-buku pop yang ditulis oleh pengarang-pengarang bukan pop. Ada Iwan Simatupang yang menulis Kooong. Dan saya penikmat Remy Sylado, penulis tua sekali, yang pop banget. Saya baru saja membaca tuntas Boulevard De Clichy: Agonia Cinta Monyet. Itu pop banget, pacaran dan cinta-cintaan terus,” kata saya sambil ‘melirik’ Shinta.

“Pernah mbayangkan nggak, suatu saat novel itu akan sampai ke Sherina?” Nurcholis nyeletuk

Puji Tuhan, SB, kata Parto, telah sampai di tangan Sinna Sherina Munaf. Kami tercekat.

“Tentu saja Bung Parto akan  ‘presentasi’ tentang SB. Jangan pakai kata presentasi lah, seperti seminar saja. Mmm, cerita saja,” saya persilakan Parto untuk bicara.

Dia bicara kalem sekali. Tapi semua diam. Semua tetap mendengarkan sang pengarang bicara. Begini:

“Tokohnya adalah Irwan, seorang pelajar kelas 3 SMK yang bersiap-siap menghadapi UNAS, suatu hari mimpi bertemu dengan Sherina di tidur siangnya. Ketika ia bangun, ternyata ia berada di kamarnya, dan masih terdengar lagu Sherina dari radio usang yang selalu ia nyalakan setiap kali ada di rumah. Dari mimpi siang itu ia mulai teringat dengan mantan penyanyi cilik yang dulu pernah main film Petualangan Sherina.

Kemudian serangkaian cerita, ia selalu mendapatkan informasi atau sesuatu yang baru ia ketahui tentang Sherina. Mulai dari keterangan kekasihnya, dari radio, juga dari surat kabar.

Ketika ia menemukan berita dari koran tentang Sherina yang hadir di Surabaya, memberikan motivasi kepada siswa-siswa yang bersiap-siap menghadapi Unas. Dari berita itulah ia mulai banyak mengetahui tentang Sherina, bahwa ternyata Sherina masih seumuran dengannya dan sama-sama sedang bersiap-siap berjuang menghadapi unas.

Irwan menjadi Gila Sherina. Foto yang ada di koran ia gunting dan ia jadikan motivasi untuk lebih semangat belajar, di rumah ia selalu mendengarkan radio dan request lagu-lagunya Sherina hampir di semua radio yang ada di Bojonegoro.

Namun sayangnya ketika Irwan mulai Gila Sherina, ia sebelumnya sudah memiliki kekasih yang bisa dikatakan perfect, Rista. Kekasihnya tulus mencintai Irwan apa adanya, meskipun Irwan hanya naik sepeda mini warna merah yang selalu dipakai untuk ke sekolah maupun berkencan. Semenjak Irwan mulai Gila Sherina, kekasihnya mulai terabaikan dan jarang mendapatkan perhatian dari Irwan lagi, karena yang ada di pikiran Irwan hanya ada Sherina, sehingga hubungan dengan kekasihnya berakhir.

Setelah putus dengan Rista, Irwan semakin menggilai Sherina dan tak terlalu menyesali perpisahannya dengan Rista. Hingga suatu ketika Irwan perjalanan pulang sekolah, ia mendapat pesan bahwa Rista kecelakaan dan kondisinya kritis, butuh kehadiran Irwan karena selalu memanggil namanya. Namun Irwan menganggap itu hanya akal-akalan Rista saja untuk bisa bertemu, karena mereka memang lama tidak saling komunikasi lagi. Hingga saat benar-benar terakhir kepergian Rista, Irwan tak juga datang.

Setelah mengetahui kenyataannya, timbul penyesalan dalam diri Irwan yang membuatnya trauma untuk jatuh cinta, sehingga ia berjanji untuk tidak jatuh cinta lagi dan memasang standar tinggi, cewek yang menjadi kekasihnya minimal harus secantik dan semanis Sherina.

Pada saat Irwan berjuang dalam Unas, konsentrasinya kacau karena menjelang waktunya ujian ia menanggung beban pikiran karena penyesalannya terhadap Rista. Hingga akhirnya pada saat ujian, ia mengeluarkan foto Sherina yang ia gunting dari koran dan selalu ia bawa untuk memberikan motivasi. Gara-gara guntingan foto itu, hampir saja lembar jawaban Irwan disobek oleh pengawas ujian.

Setelah lulus sekolah Irwan melanjutkan kuliah dengan bekerja sebagai penyiar radio di Rainbow Star FM, salah satu radio terbesar di Bojonegoro dan kegilaannya kepada Sherina tetap semakin menjadi.”

“Lho, radio mana itu? Mase penyiar radio ya?” Shinta menyela. Shinta ini, penyiar radio top lho.

“Ini fiksi, Mbak. Dan fiksi selalu benar,” kata Parto.

“Suatu hari ada seorang pendengar cewek yang bernama Mitha membantainya langsung di On Air.”

“Lhoh, ada Shintanya?” saya menyela.  Rasanya menyesal sekali memotong omongan orang.

“Stres,” kata Shinta. Ternyata bukan Shinta, tapi Mitha.

Mitha adalah seorang penggemar Sheila On 7 (SheilaGank) yang tidak terima karena setiap kali Irwan siaran, pasti selalu memutar lagu-lagu Sherina, baik untuk backsound siaran maupun langsung lagu yang mengudara. Sebenarnya memang banyak yang komplain kepada Irwan karena terlalu menunjukkan identitasnya sebagai penggemar Sherina, namun baru Mitha yang berani membantai langsung dalam On Air.

Suatu hari di kampus, Irwan yang menjadi mahasiswa semester 5 meninggalkan perkuliahan statistik di kelas, demi mengikuti cewek yang cantik dan manisnya seperti Sherina. Irwan membuntuti dan pembicaraan cewek itu dengan temannya di kantin kampus. Ternyata cewek itu yang bernama Mitha, seorang SheilaGank yang membantainya waktu On Air. Irwan menjadi penasaran terhadap Mitha seorang ShielaGank yang mengidolakan Sheila on 7 khususnya Eross Candra.

Pada saat Mitha kirim salam lewat SMS ke Rainbow Star Fm, Irwan mencatat nomornya untuk mengenal Mitha lebih jauh lagi.

Janji Irwan untuk tidak jatuh cinta lagi akhirnya tergoyahkan sejak bertemu dengan Mitha. Dari rangkaian cerita akhirnya Irwan dekat dengan Mitha, dan Irwan memberanikan diri mengungkapkan perasaannya kepada Mitha.

Mitha yang masih trauma dengan cowok, akhirnya memberikan syarat akan memberikan jawaban, kalau Irwan bisa membawanya bertemu dengan Sheila on 7, khususnya Eross Candra. Irwan yang sudah benar-benar dimabuk asmara oleh Mitha, dengan berat hati menerima syarat yang diberikan kepadanya.

Nah, bagaimana cara Irwan untuk bisa mendapatkan jawaban dari Mitha, dan juga bisa bertemu dengan Idolanya? Akan lebih menarik jika menikmati sendiri cerita yang ada di dalam buku Sheraiser Bojonegoro ini,” dan ceritanyapun berakhir. Begitulah Sheraiser Bojonegoro.

Hmmmh, well well well!

Wulan, perempuan serba merah muda mengajukan tanya, mengapa sepertinya tak ada detail tentang Irwan yang mengidolakan Sherina? Maksudnya, apa yang lebih atau ada apa dengan diri Sherina hingga sebegitunya Irwan kesengsem.

Parto menjelaskan bahwa Irwan merasakan ada hubungan emosional dengan Sherina karena mereka sezaman dan sama-sama akan menghadapi UN. Dari sebuah koran, Irwan mendapati gadis cilik telah bermetamorfosis menjadi tak lagi cilik dan cantik dan manis pula.  Jadi, ikatan emosional itu terbangun sebab mereka sedang dalam situasi dan nasib yang sama.

Ferdi menyusul dengan komentar bahwa konsep penggabungan lirik  lagu dan cerita juga pernah dilakukan oleh Dewi Lestari. Karya yang dimaksud adalah Rectoverso, dimana Dewi Lestari melakukan interpretasi terhadap lirik-lirik lagunya dalam sebuah cerpen di sana.

Memang, ungkap Parto, dia sempat bimbang dengan itu. Dia telat mengetahuinya. Dewi Lestari telah memakai cara itu sebelum dirinya. Ia khawatir orang akan mengatakan dia plagiat. Tapi fikiran itu dibuangnya jauh-jauh. SB berbeda dengan rectoverso. Rectoverso adalah tafsiran atas lagu-lagu karya sendiri, sedangkan SB tidak.

Rizky menyambung soal penerbitan dan penyebarluasan. Dia mengutip Andrea Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi, bahwa ‘musuh terbesar penulis pada mulanya adalah penerbit’. Kerapkali sebuah karya menjadi banyak berubah di tangan editor atau seringkali penulis pemula berhenti mendadak hanya karena ditolak oleh penerbit. Pengarang SB, kata Rizki, luar biasa sekali. Dia mencetak karyanya sendiri dengan membuat penerbit sendiri. Perjuangan yang melelahkan tapi hebat.

Pada awalnya, naskah SB dikirim oleh Parto ke Bentang Pustaka dan mendapat jawaban dari sana untuk menunggu tiga bulan sedangkan naskah akan dipertimbangkan. Selama tiga bulan tak ada konfirmasi, tanpa pikir panjang, ia bikin penerbitan sendiri, sebuah CV bernama BluePent Damai Sejahtera. BluePent publishing ada di sana.

Tak gampang mengurus penerbitan sendiri, kata Sang Pengarang, terlebih pada soal teknis yang mengharuskan dia mondar-mandir. Belum lagi mengurus ISBN yang hingga bolak-balik beberapa kali karena beberapa kendala, sepeti ketlingsut data di PNRI (Penerbit Nasional Republik Indonesia), kesalahan membuat surat pengantar, salah faham, dan lain sebagainya. Semua kerumitan yang mengiringi perjalanan SB itu tentu saja sedikit atau banyak menambah rasa sayang sang pengarang pada bayi pertamanya itu.

Melihat apa yang dilakukan Parto, kata saya, kita diingatkan oleh beberapa pengarang yang kini sudah besar. Putu Wijaya misalnya, pengarang yang seperti selalu ngawur dalam membuat judul itu, awalnya luar biasa. Agar karyanya dibaca orang, ia menyebarkan tulisannya ke jalanan. Konon, Leo Tolstoy, pengarang Besar Rusia, ini tambahan saya di catatan ini, harus melakukan editing hingga ratusan kali sebelum karyanya terbit sebagai buku.

Okelah, lingkup yang mengitari lahirnya SB memang luar biasa. Hanya saja keluarbiasaan itu agaknya belum maksimal dan berimbang dengan ‘dalam SB’. Terlepas dari lingkup luar itu, ada banyak catatan yang agaknya perlu diperhatikan sang pengarang.

Sepanjang pembacaan, beberapa kali saya menemui ketidakseriusan sang pengarang dalam menggarap novelnya.

Sosok Irwan sebagai pusat yang nampak berlebihan seperti membuat pembacanya menjadi tumpuan curhat belaka. Di samping itu, beberapa peristiwa atau adegan banyak yang terputus dan tidak tergarap (mimpi bertemu dua perempuan kakak-adik, penyuka karya Tohari, sekolah di SMAKANTRI, momen dengan ibu, ia dan sapinya, ia yang ahli main bola, ia yang jago karate, dan sebagainya). Juga tempat-tempat yang, seperti yang dimaksudkan oleh sang pengarang untuk mengenalkan, juga sama sekali tidak tergarap. Tempat-tempat yang katanya istimewa itu hanya muncul sebatas dalam gambaran Irwan saja dan itupun sekali. Semua itu, diakui maupun tidak akan melemahkan novel itu. Dan kekecewaan saya muncul terhadap Irwan saat melihat tokoh gila Sherina itu yang pada mulanya merasa bersalah sekali karena mengabaikan Rista kekasihnya, bertindak konyol. Pasalnya, setelah hubungan sepasang kekasih itu putus, Rista meninggal. Irwan merasa menyesal sekali karena tak mengabaikan informasi yang datang padanya bahwa Rista selalu memanggil-manggil namanya di detik terakhir hidupnya. Saya merasakan betul saat Irwan berada di tengah guyuran lebat hujan dan hujan pula matanya. Bayangan saya adalah kegandrungannya pada Sherina akan mengalami metamorfosis seperti Sherina yang dari cilik menjadi tak cilik lagi, tapi ternyata sebaliknya dan ini konyol sekali: Irwan seperti melupakan begitu saja ‘insiden Sherina’, malahan memasang standar tinggi untuk kekasihnya di masa mendatang yang entah terpenuhi atau tidak dalam sosok Mitha.

SB telah lahir sebagai bayi dalam bentuk yang masih sederhana sekali. Ia adalah setumpuk kertas dengan cetak  fotocopy dan sebagaimana bayi, anak pertama pula, ia bisa mudah ambruk bila disepak. Menjadi tugas sang ibulah untuk membenahinya, kalau memang istilah menyempurnakan dianggap tidak mungkin.

Parto mengatakan bahwa ia merasa senang bila mendapat kritikan dari pembacanya, bukan melulu pujian yang justru membuat diri mudah berbangga dan puas. Di diskusi ini, memang itulah salah satu harapannya, ada masukan dan kritik dari pembaca dan teman-teman untuk karyanya agar lebih baik meskipun kesempurnaan itu mustahil tercapai. Saling memberi masukan dan kritikan adalah kewajaran dan keharusan sebagai bentuk apresiasi bahwa sebuah karya benar-benar maujud. Rasa sungkan dan tidak enak hati kadang malah membunuh. Ke depan, SB dimaksudkan sebagai trilogi yang konsepnya sedang dalam proses persiapan. Sip! Well well well, selamat berkarya, Bung!

Hingga dua jam obrolan berlangsung, Arisan Buku pun usai dan dilanjutkan pengundian. Undian diambil oleh Parto dan jatuh pada nomor 16 yang ternyata adalah Rahmatul Minan, mahasiswa IKIP PGRI Bojonegoro pengagum sastrawan HU. Mardi Luhung.

Arisan Buku selanjutnya dilaksanakan, kalau tak ada halangan, pada hari senin, 5 Nopember 2013. Segenap peserta diperkenankan untuk mengajak saudara, teman, dan kenalan-kenalannya.

Catatan akhir, semoga semangat pengarang Sheraiser Bojonegoro memercik ke sekelilingnya, kita semua. Amin!

Rumah Baca, 07 Oktober 2013

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here