Sayangi Tulisanmu Sendiri Sebagaimana Anakmu

Sayangi Tulisanmu Sendiri Sebagaimana Anakmu

33
0
SHARE

Oleh Radinal Ramadhana

MEMBACA statemen Pak Martin Aleida membuat bulu kudukku berdiri. Menulis adalah menderita katanya. Lengkapnya begini: Menulis adalah menderita. Saya bekerja keras untuk menjaga bahasa saya. Setiap kata, buat saya, adalah musikal. Begitu sulitnya membentuk kalimat pertama, paragraf pertama. Kalimat yang sudah jadi, saya baca berulang-ulang, seperti membaca komposisi musik. Kalau ada yang cemplang berarti kalimat itu harus diperbaiki. Terkadang sehari saya hanya mampu menemukan satu paragraf.

Tapi karena aku orang pemberani, aku berhasil menepisnya dengan sebuah pembelaan; setiap penulis punya kencederungan masing-masing dan kecenderungan Pak Martin yang demikian itu kan memang karena pengalaman hidup yang mengharuskan demikian. Dan melihat pengalaman hidup Pak Martin sebagaimana yang diceritakan sekilas dalam wawancara itu, yang kelam, maka wajar-wajar saja.

Bagiku kata Pak Martin bahwa menulis adalah menderita itu nggak masuk untukku. Itu bermasalah. Tapi bagi orang lain aku nggak menyarankan harus sepertiku. Bolehlah demikian, tapi nggak perlu dibesar-besarkan. Siapapun penulis aku kira dalam proses kreatifnya ya demikian. Dia akan membaca ulang tulisannya sendiri, memelototi kata demi kata dan huruf demi huruf, sebab itu adalah miliknya yang memang semestinya disayang-sayang seperti anak. Jangan sampai anak kelihatan memalukan di depan banyak orang. Anaknya nggak malu tetapi orang tuanya yang malu. Tulisannya nggak malu tapi yang nulis yang malu. Kira-kira begitu.

Lalu bagaimana menurutku? Ya kebalikannya Pak Martin. Menulis itu menyenangkan. Menyunting tulisan sendiri, memermak, memperhalus kata demi kata, kalimat demi kalimat adalah sebuah kegiatan yang mengasyikkan, bukan penderitaan.

Aku ingin menceritakan tentang temanku, namanya Rizki. Dia bisa bicara sambil menulis. Dan aku yakin dia tidak menderita. Kami sering ngopi bareng di warung. Kami ngobrol ngalor ngidul dari masalah celana dalam hingga calon bupati paling cantik. Sejam setelah kami berpisah, sebuah tulisan sudah terunggah di media sosial atau di sebuah website. Itu menurutku sebuah laku yang mengasyikkan, ringan, bukan penderitaan. Statemen Pak Martin Aleida (namanya kok bagus sekali ya?) ingin aku garis bawahi kemudian kusimpan di laci. Tidak ingin kupakai. Sebab itu malah membuatku jadi takut sendiri.

Tapi apalah aku ini. Aku hanyalah pemuda biasa yang suka main game dan belajar menulis satu paragraf setiap hari karena disuruh orang di komunitas literasi. Jadi ya tidak usah digugu. Tapi kalau menggugu ya nggak apa-apa.

—————–

Radinal Ramadhana adalah seorang pemusik muda kreatif di Bojonegoro. Bermusik baginya adalah ibadah. Dia juga suka menabung tulisan satu paragraf sehari.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY