Cerita Tentang Orang-Orang Gila

Cerita Tentang Orang-Orang Gila

Catatan Arisan Buku Edisi Januari 2017

595
1
SHARE

Oleh Ilham Khatulistiwa

BAYANGKANLAH ada orang yang waras tapi dia dianggap gila. Dia gila bukan karena memang semestinya gila, tetapi karena tekanan yang kuat dari luar bahwa dia gila. Cerita tentang orang yang dianggap gila itulah yang dipapar dalam cerpen Ruang Inap Nomor 6.

Cerpen setebal 90 halaman itu adalah karya Anton Chekhov, pengarang besar asal Rusia. Judul tersebut adalah terjemahan Koesalah Soebagyo Toer yang bukunya diterbitkan oleh KPG bekerja sama dengan Pustaka Jaya bersama 7 cerpen lainnya. Nah, buku inilah yang dibahas dalam Arisan Buku edisi Januari, Minggu (22/01/2017) kemarin. Tulus Adarrma, seorang pegiat teater di Bojonegoro, menyajikan pembacaannya tentang cerpen tersebut.

Lebih dari sepuluh yang datang dalam diskusi ini; Vera Astanti, Lina Josalinka, Ilham Khat, Saiful, Zuhdi, Oky Safitri, Oky Ciputri, Oky Dwi Cahyo, Rizki Susanti, Olyvia, Dani, Tadzkirotul Ulla, Erna Umiatin, Suudin Aziz, dan Tohir.

Tohir membuka acara dengan sedikit cerita tentang pengarang yang hidup di zaman bapak realisme sosialis Maxim Gorky itu. “Chekhov adalah salah satu tokoh penting di jagad sastra dunia. Dia punya pengaruh besar pada perkembangan sastra, tak terkecuali Indonesia. Pengarang gaek Putu Wijaya adalah salah satu yang kena pengaruh itu,” kata Tohir membuka acara.

Karena itulah, kata Tohir, amat beruntung karya Chekhov dibahas di sini. Memang, pembacaan kita melalui terjemahan, bukan dalam bahasa asalnya. Tetapi paling tidak, kita bisa membaca dan menikmatinya, itu sudah baik. Yang tak kalah penting, karya ini bisa membuat kita bahagia.

Tulus mengaku mulai mengenal karya Chekhov dari naskah drama berjudul Pinangan yang pernah pernah dia pentaskan bersama kelompok teaternya. Sama dengan Pinangan, cerpen Chekhov ini sarat akan kritik sosial dan bukan sekadar khayalan.

Menurut Tulus, karya yang bagus adalah karya yang memiliki jejak sejarah atau pijakan realitasnya, tidak melulu ngayal atau mengandalkan imajinasi. Membaca Ruang Inap Nomor 6, jejak sejarah itu terasa. Nampak benar bahwa pengarang melakukan riset dan gambaran realitas Rusia pada saat cerpen itu ditulis juga terasa.

“Cerpen-cerpen di kumpulan ini ditulis pada fase Chekhov matang. Sebelumnya Chekhov melewati beberapa fase, menulis untuk majalah humor, dan sebagainya. Cerita di sini serius dan kelam. Eksplorasi kejiwaannya dapet dan tokoh-tokohnya terlibat perang batin,” kata Tulus.

Singkat cerita,  Seorang bernama Andrei Yefimich yang seorang dokter ditugaskan di sebuah rumah sakit jiwa. Dia menangani pasien ruang inap nomor 6. Dia menangani Ivan Dimitrich Gromov, seorang pasien yang menderita gangguan jiwa akibat tekanan batin atas perbuatan-perbuatannya di masa lalu. Dia terlalu memikirkan dosa masa lalu yang diperbuatnya. Saking kuatnya mikir, dia sampai merasa terancam oleh masyarakat sekeliling. Bila melihat polisi dia ketakutan, merasa mereka akan menjebloskannya ke penjara. Andrei ini yang bisa berkomunikasi secara baik dengan Ivan. Andrei merasakan kecerdasan dan kekuatan jiwa Ivan. Sampai-sampai pihak rumah sakit menganggap bahwa Andrei ini gila.

Pasien-pasien lainnya juga memiliki kejiwaan dan cerita yang unik-unik. Mereka dikupas detail dan mendalam kondisi kejiwaannya oleh pengarang. Konfliknya bukan fisik, melainkan batin. Masing-masing tokoh atau pasien memiliki kisah kelam sendiri-sendiri, dalam, dan penuh gejolak hingga menyebabkan mereka jadi pasien di Ruang Inap nomor 6. Mereka terlibat perang, bukan fisik, tetapi batin.

Salah satu peserta diskusi, Lina Josalinka, menanyakan perang batin seperti apakah yang menyebabkan mereka jadi gila. Pelajar SMK Negeri 1 penasaran perang batin seperti apakah kok sampai menyebabkan orang jadi gila. Menanggapinya, Tulus berkata bahwa kalau membacanya sendiri akan bisa merasakan. Bahwa yang dieksplore Chekhov adalah sisi kejiawaan tokoh-tokohnya. Hampir tidak ada kontak tubuh yang cukup berarti dalam cerita ini, melainkan masalah jiwa. Tokoh Andrei misalnya, dia memikirkan kondisi rumah sakit jiwa tempat dia ditugaskan yang begitu bobrok. Banyak praktik korupsi dan penanganan pasien yang asal-asalan, ketidakteraturan manajemen, dan lain sebagainya. Andrei tidak bisa berbuat apa-apa, hanya ingin dan hanya mampu melihat dan terus menerus memikirkannya. Terlalu dalam memikirkan kondisi itu sampai membuat jiwanya terguncang hingga menyebabkan dia bisa semakin dekat dengan pasien. Hingga dia dianggap ikut-ikutan sakit jiwa.

Peserta lainnya, Tadzkirotul Ulla, justru penasaran dengan Ivan yang bagi dokter Andrei sangat cerdas dan pintar. Dia pintar dan dianggap gila. “Saya kok penasaran bukan pada kegilaannya, tapi pada seberapa pintar tokoh itu, sehingga dianggap sakit jiwa,” begitu kata Ulla.

Olyvia juga berkomentar. Dia menyatakan bahwa membaca teks sastra bisa melebar ke isu atau tema yang lebih jauh dan tidak melulu terpaku pada satu teks, dalam hal ini Cerpen Ruang Inap Nomor 6. Artinya membacanya bisa dipadukan dengan teks-teks lainnya. Misalnya bila kita memiliki referensi lain di luar teks cerpen, salah satunya mengenai kondisi sosial politik Rusia pada saat cerpen itu ditulis. Juga sejarah dan posisi Rusia di antara negara-negara lain dan ideologi dunia. Dengan demikian, maka sebuah pembacaan bisa dapat lebih.

“Kita juga bisa tahu pasti mengapa tokoh ini kok bisa gila. Menurut saya, orang gila dalam novel ini adalah orang yang berusaha waras di tengah orang-orang yang gila,” kata Olyvia berpendapat.

Diskusi usai saat senja mulai menjelang. Belum puas sebenarnya, sebab dari 7 cerpen yang ada dalam kumcer ini, baru satu yang dibahas. Meski demikian, kita percaya bahwa satu judul cerita pendek memiliki riwayat yang tidak pendek.

Bojonegoro, 23 Januari 2017

SHARE

1 COMMENT

LEAVE A REPLY