Tamas Dobozy dan Dobosan Detektif Partikelir

Tamas Dobozy dan Dobosan Detektif Partikelir

404
0
SHARE

Oleh Ashri Kacung

WARTAWAN majalah Playboy bertanya pada Roberto Bolano perihal pekerjaan apa yang akan dia geluti jika tidak jadi seorang penulis?. Dengan enteng (se-enteng klaras) dia menjawab “I should like to have been a homicide detective much better than being a writer”. Ya, ia memilih sebagai Telik Sandi.

Menjadi detektif sepertinya pekerjaan yang mengasyikkan, menarik sekaligus juga menantang. Tak salah kemudian jika Sherlock Holmes menekuni profesi ini sampe ajal menjemput, meskipun sebelum meninggal ia sempat termehek-mehek ketika terserang demensia (pikun).

Perihal dunia detektif saya ingat kawan saya yang namanya gonta-gonti seenak udele seiring musim, secepat kedelai jadi tempe, tapi tak se-whuuuz sinyal 4G LTE-lah. Jika musim sleng ia pake nama AW Hoedja (biar ngikutin kegilaan nasruddin), musim tahlilan dan banca’an ia gunakan AW Subarkah (berharap dapet banyak ambeng atau berkat), musim pilkada pake AW Saiful (biar dikira tim-nya saiful mujani yang seneng bikin polling), memasuki musim kawin ia bingung pilih nama dan akhirnya mentok dengan mencomot Mata Senja (ahh…..biar rabun pada soal begituan).

Sebagai detektif partikelir kawan saya ini, panggil saja Mata – (mata senja) tentu punya bahasa khusus ketika ngobrol soal isu krusial, misalnya tentang daerah mana yang akan dilakukan operasi judi kluthuk, erek-erek, siapa yang akan kena Operasi Tangkap Tangan, gambar apa pemenang pilkades di kecamatan X sampai  soal remeh temeh semisal rondo kempling mana yang butuh modal buat dodolan serabi. Tentu saja informasi yang didapatnya jelas A1, berapa ya lebar ukuran kertas segitu?…

Soal bahasa khusus, sandi, kode saya yakini belajar pada Alan Turing si pemecah kerumitan Enigma Machine pada perang dunia II, soalnya dia mengaku mbrabak mili ketika melihat caption di akhir film tentang Turing -yang gay- itu. Namun kawan saya ini tak hanya menyimak dengan khusus mengenai kode, namun juga – semoga saja tidak– ingin meniru keseriusan dan ahh…kejombloan Turing.

Baginya hanya ada dua kode khusus yang akan digunakan ketika membahas isu penting. Dua kode itu tak lain adalah Damen dan Klaras. Pemilihan dua kosa kata klasik nan luhur dan bernuansa heritage itu tentu bukan main-main. Ditilik dari sosiologi kultural, etnohistori, parapsikologi, rural anthropology sampe klenik dan kejawen kawan kita Mata Senja ini tak mau kehilangan ruh kebudayaan agraris arkaik adiluhung tanah lahirnya neng ndeso.

Damen    

Sehabis panen, batang padi (sing wis ra ono parine rek) akan dijemur, dikeringkan untuk pakan sapi atau dibakar sebagai pupuk orhaniiik. Namun dalam kode kebudayaan Senjaistik, kata ini dijadikan simbol untuk rupa-rupa ide, gagasan, pemikiran yang menumpuk setinggi langit dan bintang-bintang angkasa.  Namun hal yang infinite itu bisa direduksi menjadi setetes partikel kopi di suatu pagi di pinggiran jalan gang bromo. (saya di akhir nanti akan menwarkan contohnya jika anda mual dan mumet)

Klaras

Sesuai definisi kamus senjaistik klaras diartikan sebagai daun pisang kering yang melenggang anggun tertiup angin musim kemarau dan siap ditumpuk di jomblangan untuk dibakar. Sebagaimana Damen, jika aktivis go green yang teramat peduli lingkungan diluar sana berkoar-koar soal pembungkus makanan yang orhaniik dan cepat diurai oleh tanah, masyarakat desa sudah dari dulu pake daun pisang sebagai material natural yang fungsional dalam hal menjaga kadar kenikmatan makanan, –jika memang di daun pisang itu tak ditemukan telek manuk, uler atau bekas kepompong. Klaras sebagai kode kultural bisa dibaca sebagai yang ringan, natural, sederhana, fungsional, murah sekaligus enak (misalnya jika dipake pembungkus serabi yang penjualnya rondo kempling)

Maka jika sang detektif partikelir itu suatu saat bilang Duaaameeen…. atau Klarasssss ia sedang akan manjing salira untuk mengkhotbahkan dobosan-dobosan paling kontemporer dan menggelar analisis-analisis post-strukturalis tentang segala hal yang tak perlu kiranya diseriusi sama sekali, karena sebagaimana damen dan klaras keduanya lenyap secara ringan baik ketika terbawa angin apalagi terbakar.

Sebagai penutup saya akan kutip karya Tamas Dobozy yang berjudul The Man Who Came Out of the Corner of My Eye (satu dari kumpulan cerpennya Last Notes and Other Stories). Judulnya saja bikin Anda tahu ia sudah ndobos. Tapi saya jamin sehebat apapun kawan kita si detektif Mata Senja dalam memecahkan kode, ia akan takluk di hadapan kamus bahasa Inggris bersampul warna-warni yang ia beli di pojokan pasar loak kota ketika membaca paragraf tak penting di bawah ini.

Let the answering machine get the phone, then don’t return the message for three or four days, then a week, then ten days, and before long a whole month – citing some vague “bussiness” that kept you from responding; with letter or email I would let an even longer initial period gy by, say six week, the eight, then twelve and so on, and my responses would grow colder and colder more stiff and formal, filled with astonishingly boring anecdotes about weather; the state of my shoes, a minutely detail account of how inflation has outstripped, cent for cent, the federal pension plan; and so on.

Anda bisa mengandaikan paragraf di atas untuk orang yang super cuek untuk diajak chatting or bribikan. Tapi saya haqqul yaqin, paragraf di atas sering dilakukan oleh para pengepul damen dan klras di era postmodern ini.

Asri Kacung, alumni Khon Kaen Universuty, Thailand.

 

 

SHARE

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY