Kisah Pak Tua dan Macan Kumbang Betina

Kisah Pak Tua dan Macan Kumbang Betina

602
0
SHARE

OLEH Olyvia Dian Hapsari

KETERANGAN BUKU

Judul: Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta Penulis: Luis Sepulveda Alih Bahasa: Ronny Agustinus Penerbit: Marjin Kiri, Jakarta 2005

CERITA tentang macan atau harimau bukan hal baru di jagat sastra. Sosok harimau yang kuat sekaligus cerdik sering digunakan oleh pengarang sebagai simbol sifat manusia dan dimanusiakan. Sebut saja di Indonesia ada 7 Manusia Harimau karya Motinggo Busye dan Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan, di India Life of Pee karya Yan Martell, dan tentu saja novel pendek ini, Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta.

Luis Sepulveda penulis kebangsaan Chile, negara bagian Amerika Latin. Kalau nggak percaya Anda bisa melacaknya di dukun google. Saya yakin itu jauh lebih mudah kalau belum membaca buku-bukunya dan isinya. Keterangan tentang Sepulveda sama persis dengan yang ada di lampiran wawancara dalam buku ini, oleh jurnalis Afrika Berhard Magniet.

Sepulveda memang sempat tak terdengar namanya di khazanah sastra Amerika Latin. Karena dianggap pendukung setia Salvador Allende, presiden sosialis yang baru saja dikudeta militer Pinochet, dia sempat mengalami getir penjara selama dua tahun. Pengalaman politiknya membuat ia tak bisa bertahan lama di Amerika Latin dan nyaris hidup nomaden dari satu negara ke negara lain. Belakangan ia diketahui tinggal di Eropa.

Dosa Sepulveda adalah ia penulis berbakat. Ronny Agustinus, penerjemah novel ini, menyebutnya demikian. Di usia 18 tahun ia memenangi penghargaan sastra Amerika Latin Casa de Las Americas 1969 dari kumpulan cerpennya Cronicas de Pedro Nadie. Konon bukan Sepulveda yang mengirim karya itu, melainkan seorang teman yang sadar dengan kemampuan menulisnya.

Sepulveda adalah seorang yang bisa memanfaatkan latar belakang politiknya untuk bekerja dan memproduksi cerita. Termasuk Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta ini. Tapi ia sangat halus dan lihai. Nggak menghilangkan misinya, justru sangat kuat. Meskipun Anda harus menjadi pembaca yang cermat untuk itu. Saya harus mengulang-ulang beberapa paragrafnya lantas susah payah memikirkannya. Semoga hanya saya saja. He he….

Pak Tua bukan karya pertamanya dan hanyalah salah satu karya hebatnya yang kemudian dianugrahi Premio De Tigre Juan. Novel pendek ini sudah difilmkan pada 1991.

Dalam Pak Tua, Sepulveda berkisah tentang kebobrokan peradaban yang pernah menimpa kehidupan Amazon. Tentang sebuah daerah bernama El Idilio yang terletak di lembah sungai Nangartza, yang dibuka sebagai area pemukiman asing. Hal ini nggak lepas dari dampak kolonisasi Spanyol dan upaya untuk membentengi diri dari Peru. Perbatasan Amazon konon memiliki teka-teki kepemilikan dan oleh karenanya perang sering terjadi.

Budaya kulit putih pendatang digambarkan sebagai sosok polos sok jago yang dengan bodohnya ingin menjadi pemburu yang tak tertandingi di hutan. Namanya kolonisasi ya tujuannya untuk mengeksploitasi sumber daya alam bahkan manusianya. Di Amerika Latin kaya dengan tebu yang kemudian dibuat sebagai bahan dasar arak Frontena, minyak bumi bahkan emas. Seperti yang terjadi di koloni Eropa lain, Spanyol berusaha memasukkan budayanya dalam kehidupan Amerika Latin. Suku Indiana pun bisa berbahasa Spanyol. Dari novel Pak Tua Anda bisa melihat bagaimana Indiana Shuar terdorong masuk ke hutan di kaki gunung Yachuambi. Perburuan liar membuat satwa hutan semakin merangsek mendesak pemukiman orang Shuar.

Antonio Jose Bolivar Proano datang ke pegunungan bersama istrinya, Dolores Encarnacion del Santisimo Sacramento Estupinan Otavalo. Nama-nama yang seru ya? Mereka  dicibir tetangga karena sang istri nggak bisa beranak, hingga harus memutuskan ngungsi ke daerah itu. Namun Dolores tak bertahan lama. Di tahun ke dua tinggal di pedalaman suku Shuar, karena kalah melawan malaria, Dolores Encarnacion del Santisimo Sacramento Estupinan Otavalo wafat. Innalillahi….

Belajar sebagai pemukim yang sama minim pengetahuan tentang hutan, mereka kemudian bertemu dengan penduduk asli dari suku Indiana Shuar yang mengajari banyak hal, termasuk berburu dan bertahan hidup dengan baik dan benar di hutan. Sehingga Antonio Jose Bolivar Proano mahir betul jadi orang hutan. Antonio Jose Bolivar bukanlah salah satu dari mereka, tapi ia seperti mereka (hlm 36).

Namun, Antonio Jose Bolivar Proano akhirnya terdepak dari komunitas asli itu, yakni saat menembak pembunuh pemimpin suku Shuar, Nushino. Bagi orang Shuar membunuh dengan senapan nggak diperkenankan. Antoniopun akhirnya terdepak, tak diperkenankan kembali ke pemukiman Indian Shuar. Namun pengalaman hidup sebagai manusia hutan bersama suku Shuar punya banyak arti di kemudian hari saat Antonio Jose Bolivar Proano menjadi Pak Tua.

Hal yang menarik akan Anda temukan ketika membaca bagaimana kepolosan Pak Tua yang baru sadar ia bisa membaca. Ia begitu simpati dengan kemampuannya sendiri yang ternyata belum hilang tersebut ketika petugas pemilu menyuruhnya membaca kartu pemilih. Ia sangat senang dan meminta beberapa koran tak terbaca ke Walikota. Hal itu yang kemudian membuat dia bertemu dengan pendeta tak laku yang selalu tertidur setelah membaca buku. Pak Tua mendapat informasi dari pendeta itu beragam jenis buku, termasuk novel dengan kisah cinta. Belakangan ia cerita ke dokter gigi Loachmin yang kemudian mengantarkannya kenalan dengan seorang kepala sekolah dasar yang cuma-cuma membolehkan Pak Tua baca buku di perpustakaan sekolah. Oh iya, Pak Tua juga melakukan apapun untuk mendapatkan buku. Ia berburu kera dan burung eksotik hanya untuk memperoleh uang agar bisa ke kota El Dorado. Dokter Loachmin kemudian secara rajin membawakannya buku dalam kunjungan setahun dua kalinya ke El Idilio.

Menurut saya, Sepulveda sedang ingin memperingatkan pembaca untuk cermat membaca novel ini. Pak Tua sangat berhati-hati dan senang mengulang paragraf yang ia baca. Hingga ia hapal di luar kepala walaupun harus membaca pelan-pelan. Pandangan Sepulveda dalam novel ini sangat halus. Ia ingin pembacanya kritis. Oleh karenanya, ia bilang ke wartawan yang mewawancarainya, “Saya mengusung sikap etis sehubungan dengan hidup dan sikap kritis sehubungan dengan sastra. Saya ingin perbedaaan ini dipahami sehingga pembaca bisa berucap,” Aku suka buku-buku Sepulveda, tapi tidak sependapat dengan pandangannya” atau “aku suka apa yang ia tulis, jadi aku ingin tahu pandangan-pandangannya.” Sastra untuk mencapai tujuan.

Semua novel sejenis ini bagi saya nampak sama. Selalu ada tokoh baik, penyeimbang, pengait dan perusak. Untuk pertama kali di awal bab ada si dokter gigi Rubicundo Loachmin yang terkenal dengan tang mautnya. Saya kira ia tokoh utama. Ternyata ia berfungsi sebagai pengantar cerita dan teman yang baik bagi Pak Tua.

Meskipun ia sangat kejam plus kasar sebagai seorang dokter  gigi dan suka mengumpat –ya, saya suka membaca umpatannya, tapi punya hati lumayan tipis melihat keinginan besar membaca Pak Tua. Ia mencari jalan supaya Pak Tua mendapatkan suplai bacaan, yang ternyata harus kisah cinta. Lebih pasnya, kisah cinta yang menyedihkan penuh dengan rintangan yang kemudian happy ending. Yang lucu, Loachmin dapat novel-novel itu dari rumah bordil waktu bercumbu dengan pacarnya, Josefina. (Dalam film, Josefina dapat peran lebih besar dibanding dalam novel. Ia malah jadi pelacurnya Walikota yang digambarkan sebagai wanita kuat. Ya… mana sedap film kalau nggak ada perempuannya. Hi hi hi)

Walikota adalah pria tambun yang suka keringatan. Si dokter gigi menyebutnya siput lendir dan ditirukan juga oleh para pemukim. Bagi saya, dan tentu tokoh-tokoh lain (andaikan mereka hidup), dia nggak ada baiknya. Lumayan bodoh untuk dijadikan pemimpin di El Idilio yang pasti akan sarat dengan permasalahan hutan. Malah cenderung merusak dan main enak sendiri, yang penting dia happy. Tapi saya suka dia ada di novel ini. Cukup asyik melihat dia dijadikan bulan-bulanan waktu perjalanan di hutan yang niatnya untuk misi perburuannya. Dari perburuan itu ia mengantarkan Pak Tua yang harus mengatasi si Macan Betina.

Singkat cerita, Orang Shuar datang ke dermaga di mana kapal sucre dari kota El Dorado melabuh dan membawa mayat bule untuk dilaporkan ke Wali Kota. Kedatangan mayat bule itu membawa kabar buruk bagi penduduk desa, dan inilah yang menjadi inti masalah dalam novel. Seekor betina macan kumbang telah membunuhnya. Ia kehilangan bayi-bayinya yang telah dikuliti si bule dan bule itu telah melukai pasangannya. Macan betina itu sedang mengintai siapa saja, sebab bagi binatang yang berotak kecil itu manusia tampak sama semua, ia telah mencicipi darah manusia.

Antonio Jose Bolivar telah mendapatkan wangsit ketika ia kolaps akibat patukan ular equis. Bahwa sesosok gaib bermata kuning sedang menantinya. Hal ini nggak lain adalah si macan betina. Setelah misi perburuan Wali Kota yang tak disukainya, Antonio (Pak Tua) bertahan untuk menghadapi kemauan si betina. Sepulveda membangun sosok betina itu dengan begitu manusiawi. Hewan cerdik itu menggiring Pak Tua untuk menghabisi kesedihannya dan penderitaan pasangannya yang terluka. Pada akhirnya betina itu memang berusaha untuk membunuh Pak Tua bahkan mengencingi kano tempat bersembunyi Pak Tua. Mengencingi berarti menandai untuk mati. Pak Tua nggak kalah sabar dan cerdik. Anda pasti bisa menyimpulkan bahwa lakon menang buri. Siapa lakonnya? Si macan atau Pak Tua? Pertanyaan ini penting lho. Sebab, orang sering kurang pas memahami siapa lakon dan siapa bukan bukan lakon.

Hal pertama yang membuat saya merenung selesai membaca novel ini adalah tentang sosok Pak Tua itu sendiri. Namanya Antonio Jose Bolivar Proano. Sepulveda merampas habis nama lengkap Simon Bolivar, bapak revolusi Amerika Latin yang ia puja dan dukung. Saya yakin Sepulveda tak main-main dengan nama itu. Saya mengira Pak Tua merupakan pengejawantahan Simon Bolivar terhadap perbenturan antar peradaban di Amerika Latin. Korbannya salah satunya adalah yang terjadi di hutan Amazon seperti yang diceritakan di Pak Tua. Ketika Pak Tua berhadapan dengan betina, bisa ditebak siapa yang menang. Semua cerita punya pahlawan. Dan Pak Tua sudah didaulat sebagai superhero. Saya sedih betul kalau endingnya begitu. Bedakan antara lakon dengan pahlawan atau superhero lho ya…!

Saya umpat Sepulveda ketika membaca akhir cerita.

Mengacuhkan nyeri di kakinya yang luka, Pak Tua membelainya, menangis tersedu oleh rasa malu, rasa tak berguna, nista, sama sekali bukan jawara dalam sebuah pertarungan…. Lantas dengan penuh amarah ia buang pistolnya dan melihatnya tenggelam tanpa kejayaan…. Antonio Jose Bolivar Proano mencopot gigi palsunya membungkusnya dengan sapu tangan. Sambil menyumpahi bule yang tak bertanggungjawab atas tragedi ini, menyumpahi Pak Wali Kota, menyumpahi para pendulang emas, menyumpahi semua orang yang telah melacurkan perawan Amazonnya… ia berangkat menuju El Idilio, menuju gubuknya, menuju novel-novelnya yang membicarakan cinta dengan kata-kata yang demikian indah sampai kadang membuatnya lupa dengan kebiadaban umat manusia (hlm 105).

Olyvia Dian Hapsari, pejuang di jurusan Pendidikan Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Surabaya. Dia nggak takut hujan.

Tulisan ini dibuat sebagai pengantar diskusi Arisan Buku 26 Juli 2016 lalu di Komunitas Atas Angin.

Foto: dari youtube.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY