Tiga Puisi Ikal Hidayat Noor

Tiga Puisi Ikal Hidayat Noor

742
0
SHARE

Kedai Asap

Kau berdiri di atas tanah ketamakan. Undang-undang menancapkan keempat tiangmu. Dindingmu adalah besi-besi kekuasaan, sedang atapmu terbuat dari lembar-lembar uang kertas. Lalu orang-orang mabuk pergi ke dapur. Mereka tertawa keras-keras sembari tak henti-henti menghidangkan menu kesedihan.

Seekor singa terbirit dengan sepasang mata pecah. Burung-burung melempari sarangnya sendiri dengan batu. Bayi-bayi menyusu pada putihmu, kemudian sesak napas dan bunuh diri. Pohon-pohon yang baru saja mengerat leher kekasihnya menangis, sembari berkali-kali meneriakkan keputusasaan.

Hujan—juru selamat yang dinanti segenap umat—masih menunggu di antara doa-doa yang dipeluk dingin. Televisi dan surat kabar sibuk membeo di bawah bayang-bayang rasa takut akan kehilangan meja makan. Sedangkan kesadaran seperti selembar kain pel: yang ketika diperas hanya akan menyisakan kotoran.

Malam hari, saat bulan mulai mendongengkan kisah-kisah nabi Sulaiman, kau sejenak terbangun dan jadi linglung di antara bangkai-bangkai kesedihan dan airmata yang telah jelaga. Tapi di dalam tubuhmu, masih saja ada yang tak henti menyalakan api. Mereka seakan tak pernah puas menggelar pesta dan jamuan makan malam dari batu-batu yang telah ribuan tahun bertapa di dadamu.

Sedangkan di sana, di tepi pantai, orang-orang selamanya hanya meninggalkan jejak kaki. Hati dan perasaan mereka telah lebih dulu jadi ombak di tempat lain. Dan sebagaimana kehidupan, sejarah luka hanya dicatat pada dinding goa, saat manusia tersesat sembari berpelukan di gumam doa. Lalu seperti biasa, dunia akan segera lupa bahwa hari esok masih menyimpan tragedi yang sama.

2015

___________________________

Malam Pergantian

Di malam pergantian, kau membeli sebuah terompet agar bibir kita bisa berpelukan, dan merasa saling memeliki pada tiap-tiap tiupan.cahaya itu milik kita, ucapmu, sedangkan suara-suara yang menyentak adalah tamu yang tak pernah diizinkan melewati pintu.

Kita berpegangan tangan, saling menggenggam perasaan masing-masing dan berharap hujan tak akan menunda masa depan. orang-orang bergerombol seperti menanti datangnya imam mahdi. masa lalu menjelma jagung, ikan, ayam, sosis dan pada akhirnya sampah. membakar diri adalah cara paling suci untuk sampai pada kebenaran.

Sebagaimana malam yang tak pernah tahu siapa cinta sejatinya, kita juga tak pernah benar-benar tahu berbahagia untuk kepergian atau kedatangan. kita tak pernah peduli pada sepasang lampu jalan yang sakit hati, jembatan-jembatan kelaparan dan seorang ibu yang anaknya karam di lautan.

Sungguh, saat itu malam pergantian, langit kehilangan usia dan orang-orang begitu suka cita merayakannya.

2016

____________________________

Malam di Book Coffee

Kepada: Nariendra Dyah Pramesti

Di kafe ini, satu-satunya yang mampu kubaca adalah senyummu. selain itu, angin – dan malam yang bergegas meringkasi aroma hujan. langit masih hanya diam. meja-meja memantulkan cahaya dan kata-kata menjadi jalan raya di bibir para lelaki yang ingin mengantongi matamu.

Kau bertanya: mengapa hidup tak lebih seperti kue donat, melingkar dan senantiasa menyisakan ruang kosong untuk kesendirian. sunyi begitu pandai bersembunyi di antara pakaianmu yang serba hitam buku-buku pelajaran, soal-soal ujian akhir dan layar telepon genggam sedangkan ingatan seperti cangkir-cangkir yang dibariskan tak beraturan.

Ada yang diam-diam berusaha menggambar wajahmu dengan darah dan selalu merasa putus asa ketika hendak menangkap bibirmu. matamu adalah pintu, kau tak akan pernah mengijinkan niat buruk melewatinya. kau hanya ingin seseorang menuliskan puisi untukmu, tentang langit biru laut yang menampung begitu banyak kata sifat dan lumba-lumba yang lucu.

Sekali lagi, di kafe ini, satu-satunya yang mampu kubaca adalah senyummu. Udara memilih beku dan buku-buku berhenti mencoreti diri sendiri. masa depan dan kemungkinan-kemungkinan menjadi sebuah lagu yang gagal mengetuk telingamu. Kaubiarkan semua hal di luar dirimu berlari dan porak menabrak diri sendiri.

2016

_________________

*Ikal Hidayat Noor lahir di Tuban, senang membaca menulis dan mengumpulkan angka kembar. Saat ini bergiat di komunitas Atas Angin Bojonegoro.

SHARE

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY