Saya kemudian “bertemu” Stieg Larsson

Saya kemudian “bertemu” Stieg Larsson

622
0
SHARE

Penulis: Asri Kacung

Setelah Stefan Zweig dan Roberto Bolano, saya mencoba mengisi kekosongan rasa puas akan sebuah cerita yang baik dengan mencoba -akhir akhir ini – membaca Chinua Achebe, Albert Camus, Tahar Ben Jelloum, Mario Vargas Llosa, Chuck Palahniuk, dan juga Elfriede Jelinek. nama-nama yang saya sebut terakhir (selain Stefan Zweig dan Roberto Bolano), ternyata belum memberikan hentakan, kejutan dan serangan yang berarti bagi saya. tentu saja harus saya katakan bahwa indikator bacaan yang membuat saya puas itu sangat subjektif dengan bermacam alasan pribadi, sebagaimana ada seorang penulis lagi yang akhirnya harus saya sebut namanya karena telah mengisi dahaga -lumayan- panjang cerita yang menohok.

Zweig dan Bolano bagi saya merupakan dua penulis yang berlawanan arah. Zweig menulis cerita yang begitu terstruktur, dan saya menyukai bentuknya. bagi saya “bentuk” yang ditawarkan dalam cerita Zweig merupakan gambaran bagaimana penulisnya dengan penuh perhitungan. kecermatan dan perenungan memikirkan segala kejadian, plot, dan juga “aliran” cerita yang enak agar bisa “diraba” ataupun “disentuh” . dan ini bisa anda maknai sebagai -atau sebut saja- indikator pertama.

Bolano di lain pihak mendobrak dengan anti-plot, rembesan cerita yang konyol bahkan komikal namun menawarkan kesegaran. Membaca Bolano bagi saya seperti bersepeda di jalanan dengan sawah di kiri kanannya, ada angin sepoi-sepoi, nikmat, pelan namun kadang terhenti tiba tiba hanya karena ada katak yang lewat. Tak seperti Zweig, Bolano (dalam cerpen-cerpennya) memang tak membangun “bentuk” ataupun struktur. Bolano membawa kesegaran bahasa dalam aliran cerita. Ini bisa anda maknai sebagai indikator kedua.

Mengenai dua indikator itu saya teringat dengan tulisan Roland Barthes pada buku yang dikerjakan di akhir akhir masa kehidupanya; Camera Lucida, Reflections on Photography. Dalam menilai, memaknai, memahami dan menikmati sebuah foto, Barthes yang begawan semiologi itu meniliknya berdasarkan dua hal, yakni studium dan punctum, keduanya berasal dari bahasa latin.

Sepanjang yang saya pahami studium berkenaan dengan scene, komposisi atau juga konteks kultural dan dalam hal ini bisa saya identikkan atau sepandankan dengan “bentuk”. sedangkan punctum berurusan dengan detail, celah, sengatan dan saya kira itu bisa bisa mewakili “alur” dan “aliran”. Dan tentu saja bagi Barthes foto yang baik mestinya punya dua kualitas tersebut.

Kembali pada prosa, saya kemudian menemukan Stieg Larsson…

Hanya perlu membaca satu bab dari The girl with the dragon tattoo untuk kemudian akan sangat menyesal jika tak menuntaskan seluruh halamannya. Stieg Larsson adalah seorang jurnalis dan aktifis dari Swedia. Ia lahir tahun 1954 dan meninggal tahun 2004.

Larsson bagi saya adalah pembangun “bentuk” yang baik sebagaimana Zweig. Ia mungkin tak selihai Sir Conan Doyle dalam meramu pengetahuan, logika deduktif dan fakta-fakta, namun

Larsson begitu luwes dalam mengolah dan memberi nafas lain akan kemungkinan “bentuk”. Ia saya kira adalah tipikal penulis yang tak puas akan “gang buntu” atau “dead end” namun dengan kemungkinan yang ia bawa, Larsson coba mencungkili “gang buntu” itu hingga diperoleh kembali sebuah terusan.

Pada novel The Girl with the Dragon Tattoo saya mengira ceritanya akan berakhir ketika Blomkvist menemukan jawaban atas rangkaian pembunuhan yang terjadi dan melibatkan klan keluarga Vanger. Atau ketika ia akhirnya menemukan fakta komprehensif atas kejahatan Wennerstrom. ternyata apa yang mestinya selesai dan menjadi “gang buntu” masih menyimpan “terusan”. dan bagi saya “terusan” itulah pemberian Larsson yang berharga yang bisa saya nikmati dan menyemburkan kepuasan.

Maka siapa setelah Stefan Zweig dan Roberto Bolano yang akan menawarkan horizon lain, jawaban saya (untuk saat ini) adalah Stieg Larsson.

SHARE

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY