Mencari Seikat Seruni hingga Sebelum Matahari Mengetuk Pagi

Mencari Seikat Seruni hingga Sebelum Matahari Mengetuk Pagi

803
0
SHARE

NadiraPenulis: Danial Arifudin

“Kang Arya, pernahkah kau merasa hidupmu hanya bersinggungan dengan empat dinding lubang kubur; dan pandanganmu hanya terdiri dari langit yang berubah-ubah warna. Pernahkah kau merasa kau ingin segera saja bersatu dengan tanah; karena ingin bersatu dengan segala zat yang ada di dalamnya. Bukankah kitab-kitab suci mengatakan bahwa kita semua diciptakan dari tanah?…”

Demikianlah Rizki Pratiwi mengawali bincang buku Nadira karya Leila S. Chudori sore itu, senandika seorang Nadira yang sedang ditatar Arya,kakaknya, tentang pilihan hidup yang ia ambil. Penggalan Paragraf itu ia ambil dari judul Ciuman Terpanjang. Bidikan Rizki memang pada ketidakpekaan Nadira akan perhatian Utara Bayu, sosok idaman Rizki. Sampai-sampai dia ikut geram dengan Nadira yang tidak memilih Utara Bayu sebagai suaminya.

“Kowe ki gendeng to goblok to piye to? Disenengi kok ra ngerasa. Dadi wong kok gak peka!”,Rizki mengejawantahkan protes Arya, kakak Nadira, dengan bahasanya sendiri yang sarat emosi.

Utara Bayu, tokoh penyambung di kumpulan Cerpen ini memang menarik perhatian, jika tidak boleh dikatakan sebagai iba. Sosok yang seringkali muncul ketika Nadira, tokoh utama dalam buku ini sedang dalam masalah. Kehidupan Nadira memang penuh dengan tragedi, dan tragedi-tragedi itulah yang dijadikan Leila sebagai penyambung alur di setiap cerita yang dia buat menjadi potongan-potongan cerpen.

“Nadira”, sebelumnya berjudul “9 dari Nadira”, adalah Novel karya Leila S. Chudori, seorang penulis pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa (sebelumnya bernama Khatulistiwa Literary Award tahun 2014. Novel ini terbagi dalam sebelas bab (sembilan untuk “9 dari Nadira”) yang bisa dibaca terpisah. Kisahnya memang tertuju pada Nadira, yang menjadi judul buku, seorang wartawan hukum dan kriminal yang bekerja di majalah Tera. Akan tetapi, beberapa tokoh lain dalam buku ini juga bukanlah sebuah pemanis cerita. Sebut saja Arya dan Nina, kakak Nadira. Ada juga Kemala, Ibu dari Nadira yang mati bunuh diri hingga membuat Nadira merasa harus mencari seikat seruni (bab I) ditemani oleh Utara Bayu. Utara Bayu juga tidak sendirian dalam kehidupan cinta Nadira, ada sosok Niko Yuliar yang dipilih Nadira sebagai suaminya, Kris, seorang ilustrator majalah Tera yang menjadi pencerita dalam Sebilah Pisau, atau juga Gilang Sukma, seoarang koreografer tari yang tidak lain adalah suami Nina, kakak Nadira.

Leila begitu rapi menjaga alur dari setiap cerita yang dia buat, hingga untuk membacanya, kadang kita perlu membolak-balik halaman sekadar untuk mengingat-ingat.

“Butuh ingatan yang kuat untuk membaca buku ini”,ujar Tohir, salah seorang peserta yang mengaku sempat meneteskan airmata ketika membaca Mencari Seikat Seruni.

Memang, Leila S. Chudori begitu cerdas dan puitis dalam memainkan kata dan menyusun kalimat, hingga tak jarang pembaca serasa diaduk emosinya dan larut dalam kata-kata yang dia rangkai. Kemampuan Leila ini juga dapat kita temukan di karya-karyanya yang lain semisal “Pulang” dan “Malam terakhir”. Leila juga menulis skenario untuk drama seri “Dunia Tanpa Koma”dan film pendek “Drupadi”, keduanya dibintangi oleh Dian Sastrowadoyo. Andai saja “Nadira”dibuat film, seratus persen saya yakin juga dibintangi Dian Sastro (Duh, jadi gagal fokus)

Nadira,yang sebenarnya juga menyadari kehadiran Utara Bayu dalam hatinya, telah memilih Niko sebagai suaminya. Bahkan, ia rela menggudangkan buku-buku bacaannya untuk memenuhi permintaan Niko.

“Hidup Nadira yang suram,kelam, mungkinkah karena terpengaruh oleh bacaan-bacaannya semisal Tolstoy, Chekov, Dosteyovsky, dan para penulis-penulis suram lainnya?” Tohir mempertanyakan permintaan Niko yang sepertinya ingin menggudangkan jiwa Nadira yang sedang terpuruk.Toh, pada akhirnya, mereka pun berpisah juga.

Saya sendiri pun bertanya-tanya, pada konteks pergulatan batin, kemunculan nama para penulis itu apakah karena memang kesukaan Leila, atau memang cerita-cerita itu diambil dari buku mereka. Tapi, apapun itu, justeru karenanya saya jadi suka sama Leila.Eh, tulisannya Leila.

Dari New York ke Legian dan Sebelum Matahari Mengetuk Pagi, dua cerita tambahan dalam buku ini, menceritakan akhir yang sempat menggantung dalam “9 dari Nadira”, meski masih dibuat menggantung juga. Mungkin, cerita yang tak pernah selesai inilah yang membuat Leila keukeuh menyebut buku ini sebagai kumpulan cerpen, bukan Novel.

Nadira, diceritakan melalui Satimin, tukang bersih-bersih di kantor redaksi majalah Tera yang membuat kita membolak-balik lagi buku ini ke halaman-halaman awal. Sedangkan Utara Bayu, yang menjadi alasan Rizki memilih buku ini untuk dibahas di Arisan Buku mulai dekat dengan Kara Novena, wartawan cantik yang dari dulu mengidolakannya.

“Saya punya cita-cita. jika punya anak, saya namai Utara Bayu”, pungkas Rizki menutup perbincangan sore itu dengan tawa yang disambut riuh oleh peserta lainnya.

Bincang buku ini merupakan kegiatan Arisan Buku Atas Angin bulan Pebruari. Kegiatan ini dilaksanakan di beranda Rumah Literasi Atas Angin pada 20 Pebruari 2016 yang diikuti belasan peserta.

Arisan Buku yang rencananya digelar sebulan setelah ini, memunculkan nama Nariendra Pramesti, salah satu redaktur buletin Zigzag SMA 2 Bojonegoro. Salam.

————————–

Penulis adalah pegiat Komunitas Literasi Atas Angin

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY