65: Komunisme Dalam Kerudung Seksualitas

65: Komunisme Dalam Kerudung Seksualitas

725
0
SHARE

213007_93e12493-ce21-4122-9c33-cae4f2d37563Penulis: Asri Kacung

Saya harus mengakui diri bahwa hampir sembilah puluh persen dari koleksi bacaan saya dapatkan layaknya orang mencari rongsokan. Ya… anda tahu sendiri rongsokan seringkali muncul lewat bagian-bagian terpisah. Selain terpisah pastinya juga terhitung telat dan kadang sudah karatan. Itulah kenapa jika sebuah novel sekuel terbit saya kesulitan memperolehnya secara berurutan. Itu pula yang terjadi ketika saya akhirnya bisa menggenggam 65-nya Gitanyali, novel ini mestinya adalah lanjutan Blues Merbabu, sebagaimana kata yang tercetak dalam sampulnya. Tentu saja saya belum sempat membaca Blues Merbabu karena yang datang duluan adalah 65.

65 berisi kisah petualangan Gita ketika ia beranjak dewasa, mulai menulis cerpen dan menjadi kontributor sebuah majalah, lulus kuliah dan bekerja pada sebuah koran hingga kehidupannya di Glasgow ketika mendapatkan beasiswa untuk mempelajari film. Dalam rentang peristiwa itu pula ia menjadi petualang seksual dengan bermacam wanita, untuk menyebut saja sekadar nama Emma, Rosa, Hilda, Christine.

Yang menarik bagi saya adalah kemana ujung petualangan Gita yang menyangkut soal babakan perselingkuhan serta aktivitas seksual dengan sederet nama wanita di atas, pekerjaanya dan pandangannya soal komunisme.

Apa yang membuat novel ini mampu saya selesaikan adalah umpan soal isu-isu yang dilontarkan. Sejak awal 65 bercerita dengan menawan dan sederhana perkara seluk beluk lukisan, art dealer, galeri-galeri dan tingkah polah orang yang bersinggungan dengan dunia seni rupa. Setelah itu 65 juga menyinggung soal film, bioskop dan perkembanganya juga monopoli hak tayang oleh segelintir orang, hingga bioskop-bioskop kecil harus menyesuaikan standar dan akhirnya mati juga, yang kemudian diambil alih oleh pemilik modal besar. 65 juga menyinggung sedikit soal cultural studies dengan beberapa tokohnya.

Bukankah isu-isu di atas akan memikat hati orang-orang yang selama ini kesengsem, birahi dan berkecimpung dengan dunia kebudayaan, seni rupa dan film.

Jika memang hampir di semua bab 65 bercerita soal perselingkuhan dan aktivitas seksual yang dilakukan Gita, itu barangkali hanya bumbu. Tapi kalau hanya sebagai bumbu kok ya banyak sekali adegan begituan yang diceritakan. Bukankah pula mengangkat isu komunisme memang berat dengan segala tabu yang melingkupinya, hingga kemudian adegan ranjang adalah usaha main-main agar bisa membicarakannya secara cair?

Dan seks adalah isu netral yang tak bisa dilekatkan dengan isme-isme apapun, karena lebih asik dan lebih mungkin masuk pada ranah pribadi. Atau memang komunisme (di Indonesia) itu sebagaimana dunia seksualitas, banyak ceruk yang sudah terjadi dengan kenikmatan dan penderitaannya masing-masing, namun tetap menjadi tabu untuk diungkapkan secara vulgar. Atau bagi penguasa Orde Baru, komunisme adalah hasrat seksualitas itu sendiri yang karena tak bisa terpenuhi maka harus ditekan habis-habisan -meskipun dengan jalan kekerasan- untuk mendapatkan kepuasan. Ah…masing-masing anda bisa punya tafsir yang macam-macam.

Namun di luar cerita-cerita ranjang juga terhampar begitu banyak kritik dan satire atas apa yang pernah dilakukan oleh orde baru kepada pengikut, simpatisan, aktivis atau bahkan yang tidak tahu menahu soal PKI. Kutipan berikut ini misalnya

‘…anak PKI tidak boleh bekerja di pers. Semua orang tahu itu. Pegewai negeri tidak boleh, tentara tidak boleh, guru tidak boleh, institusi-institusi vital tidak boleh. Kalau ketahuan akan dipecat. Jadi gelandangan mungkin juga tidak boleh. Mempermalukan jerih payah pembangunan’ (hlm 67).

Atau yang kalimat seperti ini

Persoalanya, soal eksistensial menyangkut ruang dan waktu tidak sepenuhnya berada dalam kontrol kita. …tanya itu pada penguasa, yang menuliskan sejarah dengan ilusi mereka’ (hlm 118).

Di tengah-tengah membaca 65 saya juga kadang mencuri baca satu atau dua Monolog Politik-nya Putu Fajar Arcana yang lebih banyak bercerita tentang tingkah polah wakil rakyat untuk melakukan korupsi dengan segala pembelaanya. Dua monolog di antara 5 monolog dalam buku yang sempat saya baca adalah Orgil dan Cermin Dibelah. Orgil jika anda juga membacanya pasti akan mengingatkan pada sosok dan kasus Nazarudin, koruptor dari partai penguasa yang sempat lari ke luar negeri. Sedangkan Cermin Dibelah bisa diasosiasikan dengan sosok Puteri Indonesia yang jadi wakil rakyat dari partai yang sama dengan Nazarudin, anda tuhalah siapa yang dimaksud. Yang satu mengisahkan cerita pelariannya di rumah sakit jiwa (Orgil) sedang sang mantan Puteri itu (Cermin Dibelah) mengisahkan dari balik penjara.

Saya juga sempat membaca dua artikel dalam buku Sungai dari Firdaus karangan Richard Dawkins, ilmuwan dari Oxford pendukung paham Darwinisme. Bagi Dawkins jika saja kita menelusuri leluhur kita, maka ketemunya semua manusia ini adalah sepupu. Ia juga memberikan metafora Gen sebagai sebuah sungai yang terus mengalir. Suatu ketika gen-gen itu –dalam proses mengalirnya– ketemu dengan gen-gen lain, namun di suatu titik mereka juga akan berpisah untuk berdampingan dengan gen yang lainnya.

Sebagai selingan dua buku diatas (Monolog Politik dan Sungai dari Firdaus) cukup menyegarkan. Hingga kemudian menyembulkan tanya, apakah misalnya kebiasaan korupsi atau paham komunisme yang dimiliki seseorang itu juga akan direkam dalam gen yang sangat digital itu lalu bisa diturunkan pada generasi berikutnya? silahkan pikir-pikir sendiri jawabannya.

Kembali pada 65, pada akhir cerita Gita memutuskan untuk bertunangan dengan Emma, sang pemilik galeri di Bangkok, tepatnya di daerah Sukhumvit 65. Ya..lagi lagi dengan nahas Gita mesti bercinta di jalan nomer 65 meskipun itu di luar negaranya. Paling tidak inilah akhir petualangan Gita, lulus kuliah di Glasgow dan kecantol art dealer.

Cerita Gita, persinggungannya dengan seksualitas dan komunisme bagi saya bisa dibaca sebagai manifestasi sebuah kecenderungan postmodernisme seperti apa yang dikatakan Slavoj Zizek sebagai Decaffeinated Coffee – we get the desired result without having to suffer unpleasant side effects (Violence – hlm 44). Gita mendapatkan dan menikmati hasrat seksualnya di satu sisi, dan membenamkan serta berusaha melepaskan kepahitan dan stigma sebagai anak seorang yang pernah “terlibat” di sisi lain.

Penulis adalah pecinta kopi dan pemburu buku-buku lawas

SHARE

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY