Mati tanpa resepsi

Mati tanpa resepsi

743
0
SHARE

Penulis: Shinta Ardinta

Hujan gagal. Sekelebat kilat bermain percik api seakan mendekat. Namun lenyap. Berganti angin, terombang ambing memberi desus yang berhembus mirip lesus. Sekelumit bibir, komat-kamit mencibir, berlagu getir. Dan itu milik si fakir. Usianya merenta menginjak enam puluh dua. Terbawa cemas, resah diri bersiap kemas. Tanpa emas. Keriput mengkerut seperti siput, menjalar di sebongkah wajah milik Tusirah. Si fakir renta beranak cucu dan menjanda. Hidup yang susah!

lembar budaya

“Meski aku fakir, aku tak ingin mati kikir hingga kafir.” Tusirah mengulang kalimat itu kepada setiap orang yang dijumpainya sambil berjanji hendak merayakan resepsi di hari ia mati. Urusan mati mewah nyatanya teramat ia rindukan. Makam megah berkeramik, berisi mayatnya yang cantik dengan gaun pesta terbaik warna hijau metalik dan sebuket bunga mawar merah darah yang tengah merekah adalah secuil impian mati ala Tusirah.

“Peti mati ukiran khas Jepara, sapi terbaik untuk suguhan tamu berbagai rupa, kelak kupesan khusus di acara pesta. Pesta duka tragis dengan derai tangis namun tetap romantis.” Tusirah berkata seolah ia punya uang saja. Sedang orang-orang lebih suka menganggapnya gila. Kemiskinan memang kadang meresahkan jiwa.

*

Sementara itu, hari meninggi, ketika semua orang mengais rezeki, Tusirah tengah duduk bersemedi. Menikmati setiap tikam uban yang dipanen sang mantu dari ladang rambut aus milik si empu. Berpuluh kutu mencari celah di sela lengah. Pun percuma, gagal fatal, jari si mantu lebih sigap tanggap memburu. Tusirah bicara selayak gerutu, sambari rabunnya awasi polah sang cucu yang belum lagi genap berusia tujuh.

“Kelahiran, pernikahan dan kematian adalah hari yang sibuk,” Tusirah berbagi cerita.

“Prosesi tidak serumit ini waktu zaman nabi. Mati ya mati saja, mak. Tanah digali, raga dipendam, selesai sudah.”

“Adat telah membuat orang-orang ingin mati nikmat lagi terhormat. Akupun. Sepanjang hidup, mewah adalah kata wah, terkesan gagah.”

“Mati yang sederhana saja, mak. Tutup mata dan bukalah ketika sampai surga.”

“Apa salahnya bercita-cita? Nanti biar aku berdo’a agar Tuhan atur rizkinya.” Sang mantu diam saja. Membantah toh hanya menambah beban kepala.

**

Ulat bulu berjalan lembut di daun bambu. Begitu kontras dengan fakta yang melada. Nada duka terbirit, berkabar luka pada semua. Warga desa musnah dua. Sepasang sejoli dikata mati tertikam babi. Sebuah elegi. Sang buah hati menangis jerit segala jadi, namun tak jua bawa si mati hidup kembali. Semuanya sibuk. Ritual siap digelar. Seminggu kedepan akan berdengung lafadz yasinan. Menghantar do’a agar yang hilang, berjiwa tenang. Dan di empat puluh hari, ke seratus hingga seribu. Pesta duka terjadwal panjang nun menggebu.

Tusirah pergi melayat. Menyumpal diantara gerombol yang berduyun, berkerumun. Membawa beras lama sisa bantuan dari sang penguasa dan uang duka ala kadarnya, seperti yang lainnya, bersikap sepantasnya. Bersedih haru sambil berucap “Saya turut berduka cita. Yang tabah nan sabar ya! Semoga si fulan tidur tenang di sisiNya,” lantas kemudian pergi berlalu. Seakan siap jalani hari baru, dengan sadar penuh kelak kan tiba jua waktu, berkurang satu persatu, mati membeku.

“Harga tanah tak kian lemah, malah menguat mencekik urat. Aku tak tahu bagaimana kelak ku mati. Apa iya hendak dibuang mayatku di Sungai Sembrani?” Boniyem berkeluh sambil melangkah, menyusul imbang derap Tusirah.

“Bermimpi saja agar mati indah. Dengan resepsi yang sangat megah. Bersusah cemas membuat usia terasa kian cepat terkuras,” jawab Tusirah.

“Kematian adalah musibah, tak semestinya adat selamatan menambah payah. Mana rupiah carinya susah. Oh sungguh hidup yang serakah.”

“Anggap saja itu sedekah. Berbagi berkah, berbuah sumringah.”

***

Desa dimana hidup Tusirah berada, memang jauh dari kota. Masyarakat hidup ala kadarnya, meski zaman telah merdeka. Aura moyang dan leluhur, dijaga erat hampir tak luntur, di dekap adat nan membaur. Adat kian beradab, listrik mulai memercik, agama datang menyapa dan sebagian umat masih melarat. Berbenah, tak secepat desir busur panah.

Tusirah muda, dahulunya selir Belanda. Hidup lekat dengan aroma pekat kota. Tak heran ia paham mata uang, gaun mewah, aroma mawar darah, peti mati, pun ukir kayu jati yang ia mengerti dari gaya hidup noni-noni. Namun Belanda terburu pergi, Jepang datang lebih berani, pergolakan sering terjadi dan Tusirah tak tahan diri. Ia pergi selamatkan diri, bersama dua putra berusia di bawah lima. Berlari sekenanya, berbekal secukupnya, dan terdampar jua akhirnya. Menepi, di desanya kini.

Rumah Tusirah jauh dari megah. Berlantai tanah dengan luas tak lebih dari sebelas setengah. Berdinding bambu, beratap rumbai kelapa, siap ambruk kapan saja. Itu sudah lebih dari cukup. Walau penghujan sering kali meresahkan. Memberi nuansa tanah becek, beratap bocor dan dingin merinding. Hanya ada dapur dan sebuah ruang untuk tidur pun kadang jadi ajang menyilahkan tamu tuk sapa tegur. Sungai Sembrani adalah berkah tersendiri. Tempat segala kaum susah melanjutkan sebagian rutinitas hidup secercah, tak terkecuali Tusirah. Sungai itu berfungsi segala jadi. Kadang kamar mandi, tempat mengais rezeki, menangkap ikan gurami pun jua sesekali jadi tempat berserah diri.

Tusirah beranak dua. Si bungsu mati malu kala remaja. Belum berkhitan buat si bungsu jadi gila, ia mati begitu saja. Tusirah tak punya cukup harta, hingga si bungsu nekat berkhitan dengan sendirinya. Darah bercecer habis meluber hingga nyawa terbang bergeser. Orang-orang menyayangkan kepergiannya, namun juga tak mampu berbuat apa-apa. Hidup sama susah, cita-cita sama tinggi dan semua mesti diusahakan sendiri. Beruntung sulungnya berbeda nasib, sempat berkhitan dengan dana sumbangan masjid. Sulungnya kini telah beristri, beranak pula satu biji. Ia bekerja menjadi kuli, berupah rupiah senilai blewah. Sangat murah.

****

Gerimis malam bercampur baur dalam aroma kesenduan. Irama duka masih terasa, sisa sejoli yang mati belum lama. Beberapa lelaki berduyun pergi menuju rumah milik si mati. Siap mengaji, membunyi do’a berselimut pamrih tinggi, pulang bersama berkat dalam genggaman. Soal yang demikian tak perlu di ributkan. Rahasia lama yang semua orang sama taunya. Memang sudah sewajarnya, selaksa kerja berbalik upah, seperti kewajiban memperistri hak dan bersalaman. Sah. Sah. Sah.

Berkat memang karunia. Berbeda dengan makna restu, berkat dalam tafsiran masyarakat desa Tusirah, lebih pada oleh-oleh berisi makanan ala kadarnya. Tanda terimakasih bagi mereka yang sudi hadir berbagi do’a di tengah duka. Berkat, kadang terbagi dalam bentuk mentah berisi beras, gula, minyak dan mie instan. Kadang pula tersaji secara matang dalam balutan nasi kotak berisi makanan aneka macam.

Malam yang panjang. Gerimis tiada habis. Lagu do’a menyebar dan Tusirah merenung panjang tak karuan, memikir gilir mati yang rasanya siap bertandang. Ia belum ada uang. Ia enggan mati berhutang, hanya untuk urusan kafan, selamatan dan pernik pesta khas kematian. Sementara itu, sang cucu datang bergelanyut mengajak bincang.

“Mbah, mengapa orang mati tidak dikubur saja setengah badan? Nanti bila hujan datang, biar makam subur tersiram. Lantas mereka bisa kembali hidup dengan tenang selayak tanaman.” Cucu Tusirah berkata absurd, khas imaji bocah imut.

“Itu mana bisa? Manusia mestilah bergilir menikmat dunia,” jawab Tusirah.

“Bisa saja. Kata orang, manusia berasal dari tanah, jadi apa yang salah?”

“Tidak salah. Berasal bukan berarti dapat tumbuh jika di tanam. Buktinya beribu orang mati, tak pernah hidup bangkit kembali. Mereka semua bertransisi, menuju hidup yang abadi.”

“Mbah benar juga. Lagipula kalau manusia tumbuh di tanam, mereka hanya akan kian menjulang, tanpa mampu pergi melangkah berpetualang. Tapi mbah, mayat yang di pendam itu, apakah nanti bisa tumbuh selayak umbi-umbian?”

“Mari makan! Bapak membawa berkat selamatan. Ayo mak, mak mestilah kelaparan!” Sulung Tusirah menyeruak, menghentikan deru panjang percakapan yang belum terselesaikan. Benar saja, di luar rumah dengung lelaki bermunculan, mengucap salam-salam sampai jumpa, berpisah jalan menuju rumah tak setujuan. Selamatan telah menemu kesudahan.

Berkat di buka. Bungkusan amplop berisi uang sebesar harga garam berada di tingkat teratas paling kentara. Dibawahnya, tampak jajanan pasar berwarna pisang, apem, nagasari dan air mineral gelasan terbungkus plastik, terasing menindih lauk dan juga nasi. Berada di mika lima sekat, mie goreng, acar, rebusan daun pepaya, sambal kelapa dan satu butir telur ayam rebus berbagi tempat beserta kerupuk udang sebagai pelengkap. Kerumunan nasi berada di kasta paling bawah, namun menggaris batas hampir setengah. Banyak. Banyak dan nikmat untuk ukuran keluarga Tusirah yang melarat.

*****

Sajak Pemakaman

Kemana perginya jiwa-jiwa tenang

Atau yang mati gentayangan

Apakah nisan telah hantarkan ke tujuan?

Atau tanah telah memeluk dan meremah?

Serpihan daging manusia itu, sudahkah meresap?

Membawa berkah bagi belatung yang mencecap?

Dan mati selaksa tragedi

Memutus singkat urat nadi

Menyisa sepi tak berarti

Pemakaman riuh dalam sunyi

******

Hujan tanpa alasan. Kemarau lebih menegangkan. Terik tak kan pernah berbuah rintik. Makam gersang seperti neraka tengah berperang. Itu mengapa penghujan lebih jadi musim idaman. Meski basah, mentari kadang juga merekah. Memberi sejuk bagi nisan usang yang lama tak di rujuk.

Tusirah berziarah. Menemui makam si bungsu di sela rindu dan jua pilu. Isaknya syarat akan makna. Berkoar dalam mimik yang terbata; “Mak akan datang, kita akan bergandeng tangan, bersama lupakan kemiskinan dan tentu kau tak perlu lagi sendirian. Anakku sayang, anakku malang, mak pastilah lekas berpulang.”

*******

Sepulang dari pemakaman, Tusirah menyusun rencana kubur. Merenta dan menunggu uang jatuh dari surga jelas mustahil baginya. Bibirnya terlanjur berucap bahwa ia akan mati dengan elegan. Seperti gaya noni dan tuan mantan majikan. Minimal, perkara tanah tempat kelak ia singgah, terbayar tunai tanpa tanggungan.

Tubuh Tusirah terhuyung menuju rumah pak lurah, mengajukan permohonan agar tenaganya yang tak seberapa mampu dipekerjakan dalam bidang apa saja dengan upah berapa saja. Pak Lurah bukan orang kaya, gajinya pun tak sebesar tanggung jawabnya. Namun karena rasa iba, Tusirah dipekerjakan juga, menjadi tukang sapu di rumahnya.

Setiap kali seusai menerima upah, Tusirah tampak sumringah. Terburu ia pergi hendak mengkredit segala rupa pernik duka. Mula-mula ia membeli kafan, kemudian memesan tanah pemakaman, membayar di muka upah tukang gali kuburan, terakhir ia titipkan uang guna tambahan belanja keperluan selamatan.

“Mak pastilah berbuah rupiah dari hasil menyapu rumah pak lurah,” terka si sulung pada Tusirah di suatu senja.

“Mak ingin mati mandiri, agar kau tak perlu pusing soal biaya prosesi.”

“Mak tak perlulah bersikeras ingin mati dalam megah hingga bekerja dan pulang dalam lengah. Berisirahatlah saja, mak. Aku lebih suka melihat mak bermalas di rumah.”

“Mak sudah mengganti daftar gaun hijau metalik dengan hanya sekedar kafan. Mak hanya ingin mati tenang di kuburan. Karenanya mak bekerja, takut kalau-kalau kau tak sanggup lunasi biaya pemakaman hingga mayat mak mu ini tak tertanam dan tergeletak di tengah jalan.”

“Aku menyayangimu, mak. Jangan lagi berpikir terlalu cepat ingin mati.”

“Mak juga menyayangimu, nak.”

********

Delapan tahun berselang. Terhitung sejak Tusirah jadi tukang sapu rumah pak lurah, tak terasa cicilan persiapan resepsi kematian Tusirah hampir musnah. Lurah yang murah hati, tak heran jika ia terpilih berkali-kali.

Segalanya telah siap. Hanya tinggal menunggu si punya hajat menjadi mayat. Tusirah tampak lega, meski semua tak sesuai seperti awal mimpi, makam keramik turun kasta menjadi tanah, buket mawar merah berevolusi jadi beberapa genggam burai kelopak mawar bercampur racikan pandan segar, suguhan daging sapi berganti ukuran telur ayam satu biji, tanpa ukir kayu jati sebagai peti mati. Bayangan berkat selamatan siap bagi hingga menjelang seribu hari kematian dan rimbunnya tamu undangan adalah hal yang kadang membuat Tusirah terkikik sendirian. Betapa ia telah begitu siap mati. Wajahnya akan terpampang pula menjadi model sampul buku yasin untuk mengaji. Dan do’a-do’a penghantar jiwa akan siap berdendang melepas kepergiannya. Begitu bahagia.

*********

Hujan akbar. Langit remuk. Awan keropos. Kilat berkelebat pecahkan guntur menggelegar. Tusirah tengah berada di Sungai Sembrani saat hujan datang berbagi. Tubuh rentanya langsung diterpa derap air tanpa jeda. Bulir besar-besar. Terjun menghajar gravitasi tanpa ampun. Terasa sakit setiap kali menyerang kulit. Tusirah panik. Mata rentanya semakin rabun berselimut embun. Hujan tanpa celah menyekat jarak pandang hilangkan arah. Tusirah menggigil, rematiknya memanggil. Batu berlumut menyambut langkah tuanya yang mengkerut. Tusirah pasrah. Hujan membuat seimbangnya tumbang. Ia terbaring dibopong aliran air. Sungai membawa tubuhnya pergi jauh. Menuju nirwana tempat berlabuh.

Orang-orang desa gempar. Resepsi kematian batal digelar. Jasad Tusirah tak pernah ditemukan. Mungkin telah habis di mangsa ikan. Sebagai sajian selamatan. Ibarat pesta tanpa pengantin. Tusirah mati tanpa resepsi, mati tanpa bersuci, tanpa taburan bunga wangi pun kafan terbaik pembalut diri. Tusirah melewatkan begitu saja, adat naik keranda beroda manusia, menuju lahat tuk istirahat. Selamat jalan Tusirah, bermimpilah saja mati berpeluk tanah. Tidur yang tenang, tidur yang senang, semoga terbangun sampai tujuan.

*) Cerpen ini dimuat di Jawa Pos Radar Bojonegoro pada 31 Desember 2015

SHARE

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY