PEREMPUAN YANG MENAMAI SUAMINYA KUBURAN

PEREMPUAN YANG MENAMAI SUAMINYA KUBURAN

579
0
SHARE

 

 Cerpen Aksan Taqwin Embe)*

SUNYI.Membiarkan angin kuburanmemecahkan serabut cahayanya melintasi kelokan pilau yang berayun.Pilau bergaris lengkung dan berlukiskan batik-batik yang berbeda memiliki filosofis tersendiri.Sebagaimana leluhurnya mengatakan itulah nasib.Bukan takdir.Pilihan hidup harus kalian tentukan sejak saat ini. Saat itu pula keduanya saling menenggak kesabaran
Jangan pernah berkata pisah, cintailah aku serupa kau mencintai ibumu, kata perempuan itu kepada lelaki yang ia cintai. Benar, lelaki itu berkelopak mata yang angkuh.Sorotan mata seakan mengeja dan menerka segala rasa.Segala sikap yang belum diucap.Inilah seperjalanan cinta yang dinamai malam yang pekat.
Bercumbulah dengan teguh serupa karang pada raut memerah senja. Saling menatap dan berdiri tegak lelaki membenarkan ucapan wanita adar. Sambil mengemas sabit dan karung berisikan rumput menuju perebahan sunyi. Menguras perlahan air yang bertamu ke dalam beranda rumah atas sapuan ombak menyobek kegelisahan mata burung kuntul yang serapi tentara.Ada ukiran yang melenggok pada pilau.Konon sebagai bentuk keberuntungan, sebagai tangan gesit mempermudah meraup ikan di belantara samudera.Berkira-kira dalam penghujung resah adalah wajah melecut para penjelajah laut.Desah resah mengeja renta lajunya pilau yang merapuh. Berdiri sama rasa. Tegak resah saling mendesah keluh kesah
Mengeja mata.Mengemas kerinduan serta resah yang mendesah.Menyusun angka-angka yang ganjil.Mengasir pagi yang gigil. Seperti pagi-pagi sebelumnya, kota ini nampak mengabut dan dingin. Berselimut dan meringkuk di bawah kebisingan badak yang saling berebut makanan, berebut air untuk merebah diri.Bukan apa-apa, tidak masalah.Nampak indah jikalau dengan biasa menikmatinya.Rasa kesal kausal telah luntur atas suara badak.Ada sebuah persepsi sendiri, kami diam, tidak menghampiri, takutnya para badak yang sedang berpesta buyar lari tiada lagi.Bahkan mengendus napas kita pun sangat tajam, apalagi dengan gerak dan suara kita yang membuat mereka—badak terganggu.Beginilah beranda warna pada lingkungan perkampungan kecil, hanya mengeja mata, sesekali saling menerka-nerka adalah hal yang paling baik dan lumrah.
Semasa hidup saling terka menerka kalau sepasang insan ini saling cinta.Benar.Berkali-kali kukatakan kalau ada air kelapa yang mengalir di mata Ibunya.Kadang mengental menjelma bak nanah.Meresapi segala keresahan yang bertudung kegamangan tiada ujung.Apalah arti, semua telah dimusnahkan dalam sikap primitif yang sesuai masanya. Masa Ibunya. Juga Bapak yang hanya mampu menuruti kata istrinya. Kekuatan cinta sepasang kekasih itu melebihi amarah ibu, mereka lari di Pantai kelapa tujuh, menikah tanpa orang tua, hidup bersama hingga pada akhirnya lelaki itu pergi untuk mencari nafkah di luar pulau dengan pilau yang dibuatnya sendiri.
Jikalau kau mampu menembus pandang antara kabut, angin dan cahaya. Maka dari puncak Gunung Karang, kau akan menemukan titik keramaian, mendapati lautan kelapa serupa mata ibu, pelabuhan badak, serta pelbagai hiruk pikuk pencari penyumpal perut yang ramah. Kau pun akan menemukan perempuan itu yang tak lelah memainkan lesung di pelataran rumah, di bawah pohon kelapa.
Lima belas tahun mereka menikah. Tahun yang ganjil akan segera digenapkan pada rindu-rindu yang mendebu, menggebu-nggebu. Perempuan itu masih menyulam air matanya dengan lesung peninggalan Ibunya.Teringat suaminya yang tidak kembali.Konon, dia telah pamit ingin berhijrah ke Sumatra Utara, bekerja sebagai kuli bangunan, tidak kembali tanpa kabar.Air mata perempuan itu menjadi rembulan.Rembulan purnama yang telah diukir dengan kegamangannya.Barangkali sudah ratusan purnama suaminya tidak juga kembali.Perempuan itu setia menunggu. Dengan lesung ia menyambut kapan pun suaminya datang. Entahlah, sampai kapan.Teringat memainkan bunyi lesung bersama suami adalah surga.Sesekali bercumbu menjatuhkan tubuh, sesekali pula saling mengeja mata.
Dapat sepotong kabar dari tetangganya, melarungkan nasib yang sama di luar pulau serupa dengan suaminya. “Suamimu telah mati.”Seketika mata yang bulat licau itu penuh darah yang mengalir perlahan di pipinya.Penantian berasa sia-sia. Andai perempuan itu mampu berenang sepanjang ribuan kilo, maka dia akan menjemput jenazah suaminya di pulau yang gelap itu. Pulau belantarakan wajah-wajah ganas semasa itu.Hanya diam bersama lesung dan kopi yang belum sempat ditumbuk, kopi persiapan untuk suami.Apalah daya, dia tak kembali untuk purnama yang ganjil. Dikiranya akan hadir dalam pesta purnama kali ini. Telah digenapkan seribu purnama, namun alpa adanya.

***
Pada ranjang yang hampir merapuh inilah perempuan itu hanya mampu meraba dirinya sendiri.hanya dengan hitungan jari ranjang yang sedikit kusam itu dipakai bertukar keringat bersama suami, setelahnya raib. Hanyalah mimpi yang mengembang menjadi keringat tengah malam.Sudah tiada, hanya kenangan. Suatu ketika perempuan itu bermimpi, bahwa lelaki yang ia nanti telah merintih sakit, meminta tolong dan berkali-kali menyebut namanya. Pilau yang dipakainya telah terdampar di pulau yang tak disebutkan di dalam mimpi itu.Dia tahu betul bagaimana bentuk dan suasana pulau itu.Dia rasa bukan di Sumatra yang pernah disebut tetangganya, bahwa suaminya telah mati.Perempuan itu meyakini bahwa suaminya masih hidup. Tergagap, bangun kemudian lari terbirit-birit keluar sambil meneriaki nama lelaki yang dinanti, sambil menghentakkan kakinya di atas tanah sebanyak tiga kali. Membasuh mukanya dengan pasir yang lembut, mengkristalkan cahaya bercampur air matanya.
“Kau kenapa, Han?” tanya lelaki yang pernah mencintainya. Abdul, nama lelaki itu.
Matanya yang semakin sayu lebih yakin menandakan kegetiran rasa yang sudah tidak berasa, mati rasa.Bibirnya masih mengatup.Sudah tiada kuncup.Bermekaran melati di pekarangan rumah selaksa matanya yang sudah lelah mengalirkan air mata.
“Entah.”Sautnya dengan wajah jengah.Saling menatap, mengeja mata dan napas lama.
“Ceritalah, barangkali bisa membantu semampuku!”
“Suamiku hilang tiada kabar.Entah tenggelam, atau terdampar di pulau hitam.”
“Pulau hitam?”
“Iya, kusebut hitam, aku tidak tahu nama pulau itu.”
“Lantas?”
“Aku mendapatinya dalam mimpiku.”
Suasana pecah. Angin berkombinasi dengan suara burung jampuk yang mengitari pohon kelapa depan rumah. Ombak yang masih berdebur hantam bersama pasir yang mengkristalkan garam-garam kegetiran.Serupa lesung ditabuh dengan ramah adalah suara bergumam yang hanyut mata angin dari bibir mungil yang bergetir.

***
Aku semalam melihat ruh yang datang kepadaku.Ruh seorang lelaki tinggi kekar tubuhnya.Dia menamai dirinya Fajar.Matanya memerah bak macan yang hampir menerkam. Tubuhnya wangi, napasnya segar. Namun dia datang hanyalah membawa dirinya yang tak lebih adalah ruh.Di tangannya kudapati secarik kertas yang basah. Barangkali surat yang telah ditulisnya dengan darahnya sendiri. Dititipkanlah surat ini kepadaku, surat yang semerbak wangi darah. Dia berpesan panjang lebar.Berhasrat agar aku menyampaikan pesan ini kepada seorang perempuan bernama Hanis.Perempuan itu diakuinya sebagai istrinya. Sesekali dia menangis, seketika pula disapu air mata itu. Tiba-tiba dia hanyut terbawa angin.Aku pun terkejut, sapuan air matanya pun menjadi pecahan kelapa muda.Barangkali penanda mengatakan kesucian—putih pada hatinya.Tapi entahlah, apakah kau yang bernama Hanis?

***
Wajah perempuan—Hanis itu pucat, setelah wanita adar telah bercakap sesaat dengannya. Keduanya dipertemukan di lereng Gunung Karang yang meradang.Bukan masalah, hanya sebatas cerita bagi Hanis.Selusin kali bahkan lebih percintaan pada malam penantian purnama adalah lereng gunung menjadi favorit keduanya.Mengeja mata.Menyulam wajah di rahimnya.
“Pergi, temui suamimu!Barangkali tubuhnya masih tertinggal.”
“Di mana?”
“Pulau hitam.”
“Aku tidak mengerti, dan aku tidak pernah tahu di mana letak pulau hitam.”
“Pejamkan matamu.”
“Kau mempermainkanku?”Sontak bulu kuduk perempuan itu berdiri, wajahnya memerah. Bukan takut, namun wanita adar itu lebih meringis dan seakan meremehkan adanya.
“Jika kau bisa lebih tenang, maka kau akan lekas sampai.Cobalah!”
Menutup matanya sambil meraba-raba dadanya. Beberapa putaran jarum waktu, dibukalah perlahan matanya atas perintah wanita adar. Ia dikejutkan dengan hal yang menakjubkan. Ada cahaya yang yang berjalan berdesir masuk ke dalam sumur.Diikutilah cahaya itu, semakin licau menusuk mata, hingga tangan memenuhi wajahnya.
“Itulah suamimu?”
“Bangsat, apa yang mereka lakukan terhadap suamiku?”
“Entah.”
“Apa yang dilakukan suamimu semasa hidup?”
“Memintal hidup penuh cinta denganku.”
“Selain itu?”
“Sesekali melaut, setelahnya ia mengukir kata-kata yang indah adalah sajak-sajak yang mampu memecahkan kaca.”
“Ya Tuhan!” wanita adar sambil lalu berucap, lalu menghilang.

***
Dia telah menamai suaminya kuburan.Kuburan di beranda. Seringkali ia merenda pada batu nisan dengan ukiran-ukiran angka yang mengembang. Sebagai tanda lahir dan kematiannya. Hanya satu yang ia sesali. Pertukaran keringat pada malam yang belum usai, belum sempat dilanjutkan. Rupanya ketika ia pamit akan melarungkan diri dengan pilau, sekadar mencari ikan sebagai kebutuhan, ia tertangkap dan dibunuh di pulau buruh. Kau tahu siapa yang membunuh suamiku?Sambil berlari dan mengitari pemakaman sepi, bertanya dengan bayangan, bersama jampuk dan gagak yang berkelebat. Sesekali ia ingin memeluk suaminya, menghampiri dalam ilusi, maka ia akan kembali pada pemakaman suaminya yang yang dinamai kuburan. Kau tahu suamiku?Ia meringkuk, menyudahi air matanya. Sementara suaminya telah hilang paska sehari ia menikah.
“Aku adalah perempuan yang paling beruntung, Sayang,” sambil memeluk lesung di atas pemakaman.

Serang, 13 April 2013

)*Sastrawan muda, penggagas KOSTRA Tuban. Buku kumpulan cerpennya baru saja terbit awal tahun ini, Gadis Pingitan ( Komunitas Banten Muda, 2014).

SHARE

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY