SURAT UNTUK “TUAN”-KU

SURAT UNTUK “TUAN”-KU

598
0
SHARE

Fiksi Oleh Shinta Ardinta

“KALAU TIDAK DIBANGUNKAN kok tidak pernah bangun sendiri. Anak macam apa itu, sudah besar, perawan kok malasnya minta ampun. Sholat subuh selalu kesiangan. Ee mbok ya ngerumangsani kalau ikut orang. Sini sibuk lari sana sini, mana yang kerja mana yang masak buat dia. Dikira aku ini pembantunya apa. !!!! ”

Suara bulik Minah bergumul penuh amarah, sesekali diiringi bunyi cipratan air, gelas dan alumunium yang mungkin saja sengaja dibanting, dipukul atau entah diapakan sampai menimbulkan bunyi yang begitu bising yang menunjang rasa muntapnya kepadaku. Ya kepadaku, mana mungkin kepada putrinya yang tersayang itu.

“Brakkk !!, cepat bangun.. , sudah siang ini. Kamu itu memang kurang ajar, saya yakin kamu pura – pura tidak dengar. Kamu itu kalau tidak saya marah ya tidak tahu diri, kalau dimarahi kok kesannya saya ini kejam sekali.”

Gebrakan pintu dan suara kesal bulik Minah kali ini menyembur di kamarku, ditelingaku. Aku bangun perlahan, mendesah, memicingkan mata mencoba mencari fokus menatap jam dinding, masih jam setengah 6 pagi.

*****

Ayah dan ibu berpisah. Ibuku dipenjara 2 tahun lalu, karena terbelit dan tak sanggup membayar hutang. Aku juga tidak tahu bagaimana hukumannya bisa seberat itu. Tapi itulah Indonesia, bagiku yang awam ini, hukum seolah hanya formalitas saja. Menjerat siapa yang tak punya, dan melepas asal ada imbalannya.

Surat Untuk KuDisisi lain, ayah dan kakak lelakiku mengadu nasib jadi TKI. Jadi disinilah aku sekarang, hidup ditengah – tengah keluarga bulik Minah. Tidak bisa tidak, rasanya hidupku penuh pengintaian. Bila sedikit lengang saja, bulik Minah seolah sudah siap mencarikan kesibukan untukku. Entah mencabut rumput, entah membersihkan selokan, entah apa saja yang penting aku tidak duduk nganggur. Dan itu semua berbanding terbalik dengan Sutra, sepupuku. Mungkin karena namanya Sutra, maka bulik Minah ingin senantiasa menjaga tangannya agar tetap selembut sutra. Tidak heran kalau ketika aku sibuk bermandi keringat, Sutra malah sibuk bermandi air hangat.

Entahlah, tapi kadang akupun merasa kasihan pada bulik. Dia begitu keras kepadaku tapi begitu lemah pada Sutra. Entahlah apalah jadinya Sutra kelak kalau bulik sudah tidak ada (bukan mendo’akan agar lekas tidak ada, tapi kan manusia berpulang jua tujuannya). Sedang hidupnya tak pernah susah dan selalu cukup adanya. Aku tidak berani membantah bulik atas perlakuannya yang kurasa tidak adil, aku bahkan tidak tahu apa aku harus bersyukur atau sedih atas ini. Yang aku tahu, aku tidak bisa menolak untuk rasa iri ini, untuk tekanan bathin dan perasaan marah yang hanya tercurah lewat tulisan, tangisan atau bahkan hanya dalam diam.

*****

Suatu malam seperti biasa aku membantu bulik membuat lontong untuk dijual besok. Jangan tanya Sutra, dia sudah tidur. Dalam kebisuan kami, tiba – tiba bulik bertanya, pertanyaan yang tidak pernah aku duga sebelumnya :

“Jadi kamu masih berhubungan dengan tukang lele itu ?” bulik Minah duduk layaknya hakim, menghadapiku sebagai terdakwa.

Injih bulik, masih.”

“Tinggalkan dia, mau jadi apa kamu kalau menikah sama dia. Laki – laki tidak jelas asal muasalnya, pekerjaannya tidak tetap. Percaya kamu, dia disana setia sama kamu? Bulik minta kamu tinggalkan dia. Cari yang PNS. Cari yang bisa menjamin kebahagiaan kamu. Kalau tidak bisa cari sendiri, sini biar bulik yang carikan. Atau mau kamu nasib kamu seperti ibu kamu itu, jadi janda miskin yang hidupnya terlunta –lunta ?”

Mendengar pernyataan bulik, mendadak hatiku bergetar, marah, tapi kutahan sedemikan rupa dan kuberanikan diri berkata dengan tenang :

Sepuntene bulik, kula mboten saget. Monggo kersa yen panjenengan nyuwun kula tumindak punapa kemawon, insyaAllah kula sanggupi. Nanging kula nyuwun sepuntene sing kathah, kula mboten saget lan mboten remen yen panjengan punika saestu nderek ngatur – ngatur jodo kula 

Mbantah kowe karo aku, arep dadi opo kowe ?. kowe iku isik bayi, diomongongi wong tuo kok ora keno, wong tuo iku wes akeh pengalamane. Disekolahno yah ono yah ene gak onok matur suwun e blas. Gak ngerti rekasane wong urip. Mbok piker golek sandang pangan iku gampang ?.  Opo sing arep mbok pangan ? CINTA ? hah? Makan tu cinta !!”

Aku sudah tidak peduli lagi dengan lontong, dengan suara makian bulik yang kicauannya seolah dilengkapi double speaker ditengah malam ini, aku tidak peduli dengan apa kata tetangga besok. Kudapati kamarku kini, sambil menangis aku mengerti, aku hanya peduli bahwa aku sakit hati. Dan disinilah aku sekarang. Menghadapi kertasku. Menulis untukmu yang kuharap kelak menjadi “Tuanku”, menulis untukmu “Emas”. (emas bukan sekedar panggilan yang terkesan manja, tapi lebih dari itu, lelaki ini telah kuanggap begitu berharga dalam hidupku, seperti emas 24 karat bagi kebanyakan pemuja harta benda. Tak ternilai.)

 

Bojonegoro, 08 Agustus 2012

 

Emas,

Kalau menganut rasa nelangsaku, sebenarnya aku nelangsa. Untuk tidur larut malam dalam keadaan lelah bekerja, untuk sarapan ceramah yang hadir disetiap menu pagiku, untuk nasib Sutra dan nasibku yang begitu berbeda dan untuk setiap tindakan yang kadang terkesan tidak dihargai. Aku tahu emas, aku memang bukan barang kan ya ? makanya aku tidak layak dihargai.

Tapi justru karena aku bukan barang, emas. Maka aku selalu berusaha bersyukur untuk semua ini, aku besyukur karena bulik tidak membiarkan aku tumbuh jadi gadis yang benar-benar pemalas, atau hanya duduk besolek, atau mengenakan pakaian kurang bahan tanpa pernah tahu kodratnya sebagai perempuan. Kan bangganya wanita ada pada kecakapannya memasak, kan juga terletak pada kemampuannya menjaga istananya tetap terjaga bersih dan rapi, dan aku sudah bisa itu semua, emas. Tinggal besok kau dukung aku jadi guru TK. Agar aku bisa pulang lebih awal dan mempunyai banyak waktu untuk mengurus istanaku, menyajikan makanan untukmu, dan membesarkan anak – anak kita dengan tanganku sendiri. Kan kelak kau pasti bangga kepadaku kan ya ?

Aku memang bukan barang, emas. Oleh karenanya tak nak kujual cintaku dan kutukar dengan lelaki berjabatan tinggi yang katanya akan membahagiakanku. Jasadku mungkin iya, tapi aku ragu akankah bathinku turut bahagia ? . Sedang pernikahan itu kan harus ikhlas lahir bathin kan ya? Tau tidak, emas bathinku ikhlas menyayangmu. Kan nasib orang tidak boleh disama – samakan ?, kan miskin itu bukan penyakit turunan ?, Kan buktinya artis yang kaya harta pun bisa tukar ganti pasangan seperti tukar pakaian ?. Kan faktanya begitu ya mas ?

Bagiku mas, semuanya itu tentang rasa syukur. Selama kita bersyukur kan beres semua urusan ?. Lagipula apa salahnya penjual lele ? Kan sama halnya seperti petani ?. Apa dipikir beras itu bisa tumbuh dan panen sendiri ?.

Cinta bagiku cukup kau semangat bekerja, dan aku yang kan senantiasa belajar mensyukuri. Sesekali kalau aku mengeluh kan itu manusiawi ya mas ?. Setidaknya mas, sekali hidupku bolehlah kalau harus diperlakukan tidak adil (menurut sudut pandangku) ini, kan aku percaya ini hanya sementara, karena setelah menikah nanti maka disitulah letak merdekaku, dimana aku yang akan menjadi kopilotmu, untuk rumah tangga kita sendiri nanti. Sekali hidup aku hanya ingin melayani “tuan”ku sepenuh hati, agar berpahal, emas. Kan akan mudah kalau melakukan semua demi yang kita suka.

Entahlah mas, aku harus kasihan atau tertawa pada bulik atau sekalian pada para tetangga dan si tukang gosip. Mereka itu terlalu sibuk mengurusi orang lain, tapi lalai berkaca. Maafkan aku yang mengumpat ini ya mas. Kalau suatu ketika aku sampai terkena sakitnya orang kaya sebangsa yg berakhiran “ker” atau “mor”. Taulah kau sebabnya emas. Karena hatiku selama ini terlalu banyak kutumpuk dengan rasa iri, ketidakikhlasan dan rasa keluh yang berlarut – larut serta umpatan – umpatan menghakimi yang diam- diam kupelihara dalam hati mudaku yang begitu labil ini. Ya mas, aku lelah harus selalu tampak tegar, menerima semua ini dengan tuntutan dewasa, sedang aku tak pernah diberi ruang untuk bermanja.

Taulah kau emas, selain pada Tuhan yang suaraNya tak bisa kudengar, aku juga suka mengeluh padamu. Bukan karena aku menuhankanmu, aku ini hanya butuh mendengar semangatmu untukku agar lebih yakin. Itu saja !

Sekali lagi aku kasihan pada bulik , emas.  Beliau baru mengenalmu sekilas, tapi sudah berani mendefinisikanmu sedemikian tak hingga. Beliau itu tidak pernah mau tahu tapi sok tahu. Kan yang begitu apa namanya kalau bukan fitnah ya emas ?

Ah emas, aku ini calon “nyonya”mu yang rewel rupanya. Akupun tahu apa tentang bulik, kok sudah berani-berani menjudge beliau seperti ini. Tapi kan emas, mana ada orang awam yang mau salah ? kalah ? apalagi di persalahkan ? kan semuanya sama saja.. kalau bisa ya semaunya sendiri.

Kalau bulik membaca suratku untukmu ini, emas. Untuk calon tuanku yaitu kau. Aku tau bulik pasti marah besar. Tapi pada saat itu aku justru akan tersenyum, emas. Salah sendiri lancang membaca. Kan aku tidak menyuruh ?. Kan buah dari keingintahuan itu kalau tidak puas ya kecewa. Kan begitu ya, emas ?

 

Shinta Ardinta, Penyiar Radio Surya FM Bojonegoro

Dikutip dari arshi-ardinta.blogspot.com

 

SHARE

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY