Home Bengkel Menulis Menulis Ikrar

Menulis Ikrar

353
0
pixabay.com

oleh Tulus Adarrma

“Aneh, suka baca tapi tak suka nulis. Tapi lebih aneh lagi, suka nulis tapi tak suka baca”.

Kutipan dari Almarhum Masnoen itu pernah dipublikasikan dalam edisi Jurnal Atas Angin. Ketika membaca kutipan itu, ada dua sisi dalam diri yang sedang berontak bersamaan. Satu sisi, kegiatan membaca dan menulis ini sekarang terasa begitu berat. Muncullah kalimat yang sebenarnya merendahkan diri saya sendiri. “Saya sekarang tidak sedang melakukan keduanya, Pak”. Tapi sejujurnya, pada sisi lain, itu adalah pecutan agar saya kembali melakukan keduanya lagi.

Tawaran di zaman sekarang, waktu terasa terus berlari. Tanpa jeda. Namun entah akan menuju ke mana. Melihat tulisan saja rasanya sudah lelah duluan. Banyak sekali yang berseliweran. Khususnya di media sosial. Jika adapun penyaring, rasanya sudah jebol lantaran begitu deras tekanan yang masuk di kepala. Meluber hingga tak jadi apa-apa. Jeda membaca buku, dan menulis di kertas rasanya sesuatu yang bisa mengontrol keseimbangan banyaknya informasi yang masuk. Menyeimbangkan antara yang nyata dan maya.

Setelah membaca ingatan tentang kutipan dari Masnoen itu, saya seketika berjanji pada diri sendiri untuk memulai lagi. Namun, ketika ingatan itu sudah menguap, saya ingkar sendiri. Dan hanya menjadi rasa bersalah. Dan ingin memulainya lagi ketika teringat kembali. Lagi, terus dan kembali. Maka, tindakan menulis yang saya lakukan ini hanya untuk mengikat ingatan itu. Agar saya tak sering mengalami lupa dan ingkar. Meskipun nanti juga tetap tidak menolak perubahan zaman sekarang. Zaman dimana teknologi dan informasi yang begitu derasnya.

Derasnya teknologi dan informasi inilah, kemudian orang-orang lebih cepat melupakan kenang, mengabaikan pertemuan. Maka dari itu, saya beranggapan bahwa perjumpaan-perjumpaan saya dengan orang lain, pemikiran dan ide-ide saya juga akan mudah dilupakan orang lain. Saya jadi ingat Pramoedya Ananta Toer, dia pernah menulis begini, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Artinya, eksistensi orang hanya bisa ditunjukkan dengan menulis.

Saya bukanlah seorang penulis handal. Penulis yang membawa pemikiran-pemikiran baru bagi peradaban. Namun, jika terus saja saya tak memberanikan diri untuk menulis, maka tak pernah menjadi apa-apa. Menulis memang butuh keberanian. Keberanian untuk bertanggung jawab dengan apa yang saya tulis. Jika terus ketakutan dan hanya berdiam pada ruang berukuran 2,5 meter kali 3 meter, apakah iya yang terlewat hanya akan berganti begitu saja seperti malam berganti pagi, siang, sore dan sudah malam lagi?


Tulus Adarrma, pegiat seni di Sayap Jendela arts Laboratory

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here